Serangan Baru dari Jalur Gaza Ancam Gencatan Senjata

Tesa Oktiana Surbakti
27/3/2019 17:20
Serangan Baru dari Jalur Gaza Ancam Gencatan Senjata
Serangan roket mengepul di atas bangunan Rafah Jalur Gaza .(SAID KHATIB / AFP)

GERILYAWAN Palestina meluncukan serangan roket ke Israel pada Selasa malam waktu setempat. Tindakan tersebut mendorong serangan balas lebih lanjut dari militer Israel di tengah klaim gencatan senjata.

Serangan terjadi beberapa jam setelah Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan kesiapan militer Israel untuk melancarkan serangan lanjutan di Jalur Gaza. Pernyataan itu muncul jelang pemilihan umum (pemilu) Israel yang jatuh pada 9 April.

Baca juga: Soal Serangan Kedutaan, Kelompok Pembangkang Korut Hubungi FBI

Gejolak terbaru dimulai Senin kemarin, tepatnya ketika sebuah roket jarak jauh ditembakkan dari Jalur Gaza. Serangan roket menghantam sebuah rumah di wilayah utara Tel Aviv, dan melukai tujuh orang warga Israel.

Tidak tinggal diam, militer Israel membalas serangkaian serangan udara di daerah kantong. Sebagai tanggapan, gerilyawan Palestina meluncurkan serangan roket baru. Sejauh ini, tidak ada laporan korban akibat serangan.

Ketenangan masih terjadi sepanjang Selasa, dengan Hamas mengklaim Mesir menjadi perantara gencatan senjata. Begitu malam tiba, Israel menyatakan sebuah proyektil ditembakkan dari Jalur Gaza sekitar pukul 8.00 malam (1800 GMT). Hamas beserta Jihad Islam dan kelompok lain, mengklaim roket yang menghantam Ashkelon adalah perbuatan seorang individu. Faksi-faksi tersebut berkomitmen menjaga ketenangan selama Israel bertindak demikian.

"Angkatan udara kami baru saja menyerang beberapa sasaran teror Hamas di Gaza. Jika Hamas berpikir kami akan duduk diam ketika terjadi tembakan roket, ledakan dan pelanggaraan tembok perbatasan yang mengancam kehidupan warga sipil Israel, mereka salah besar," bunyi cuitan militer Israel melalui akun Twitter.

"Jet dan pesawat tempur kami menyerang sasaran baru Hamas di Jalur Gaza," lanjut militer Israel.

Sumber keamanan di Jalur Gaza mengungkapkan serangan udara menghantam pangkalan militer Hamas di Khan Yunis. Netanyahu yang mempersingkat kunjungan di Amerika Serikat (AS), menegaskan siap melakukan lebih banyak serangan.

"Kami akan melalukan apapun yang dibutuhkan untuk membela rakyat kami, dan mempertahankan negara kami," ujar Netanyahu melalui tautan satelit dalam konferensi AIPAC yang berpihak pada Israel.

Mengacu penilaian Netanyahu, Kepala Staf Militer Israel Letnan Jenderal Aviv Kohavi memerintahkan pengiriman lebih banyak pasukan di wilayah selatan. Kohavi juga menyetujui pemanggilan pasukan cadangan. Di lain sisi, Netanyahu dipandang berupaya menghindari perang keempat di Jalur Gaza sejak 2008, dengan konsekuensi tak terduga jelang pemilu. Akan tetapi, dia juga mendapat tekanan politik yang berat.

Baca juga: Indonesia Kecam Kekerasan Israel di Palestina

Sabtu kemarin menandai peringatan satu tahun aksi protes dan bentrokan di sepanjang perbatasan Jalur Gaza-Israel. Adapun, demonstrasi berskala besar diperkirakan akan terjadi. Sebelumnya, Netanyahu mengatakan respons Israel terhadap tembakan dari Jalur Gaza, merupakan serangan terbesar di situs-situs Hamas.

Setidaknya sejak perang terakhir di antara mereka pada 2014 lalu. Pemerintah menutup jalur lintas manusia dan barang di swkitar wilayah kantong. Langkah itu mengurangi zona di Mediterania yang menjadi wilayah tangkap nelayan Palestina. (AFP/OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya