Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Imigran asal Suriah dan putranya dimakamkan di Selandia Baru pada Rabu waktu setempat. Pemakaman pertama dari sejumlah korban tewas akibat serangan teror di dua masjid di Christchurch, membawa duka mendalam bagi 'Negeri Kiwi'.
Pelaku, pria warga Australia yang menganut paham supremasi kulit putih, dituduh sebagai dalang penembakan yang menewaskan 50 umat muslim, pada Jumat lalu. Aksi pembunuhan massal itu bahkan sempat disiarkan langsung melalui situs jejaring sosial Facebook.
Pria bersenjata yang belakangan diketahui bernama Brenton Tarrant, sudah lama mencermati pergerakan para ekstremis yang kerap memanfaatkan platform media sosial. Sebagai respons, Perdana Menteri (PM) Selandia Baru, Jacinda Ardern, menyerukan perhatian global terhadap persoalan tersebut.
Pada Rabu, ratusan pelayat muslim berkumpul untuk menghadiri pemakaman dekat Masjid Linwood, salah satu lokasi target penembakan. Pemakaman itu menjadi tempat peristirahatan terakhir Khalid Mustafa dan putranya, Hamza.
Keduanya ditembak di Masjid Al Noor, lokasi serangan pertama. Keluarga Mustafa tiba di Selandia Baru tiga tahun lalu, setelah berjuang keluar dari konflik di negaranya, Suriah. Khalid meninggalkan seorang istri, seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki yang juga menjadi korban luka penembakan.
Zaid yang duduk di kursi roda, masih mengingat jelas adegan tragis yang merenggut nyawa ayah dan saudara laki-lakinya. Dengan khusyuk dia memanjatkan doa bersama barisan pelayat. "Seharusnya saya sudah berbaring bersama kalian, bukan berdiri di depan kalian," ujar Zaid lirih di depan makam orang-orang yang dikasihinya.
Dalam suasana yang masih diwarnai ketegangan, pengeras suara di lokasi pemakaman mengumumkan prosedur evakuasi jika terjadi keadaan darurat. Pada hari itu, sebanyak enam orang akan dimakamkan.
"Saya tidak bisa berkata-kata tentang bagaimana harapan sebuah keluarga datang ke sini untuk mendapatkan kese-lamatan dan perlindungan. Tapi, yang terjadi tidak demikian," tutur Ardern memberi komentar tentang keluarga Mustafa.
Pascaserangan mematikan, Ardern bersumpah untuk memperkuat regulasi kepemilikan senjata di Selandia Baru yang cenderung longgar. Dia menegaskan dunia perlu mewaspadai bahaya yang ditimbulkan media sosial. "Perlu ada kesepakatan untuk menyatukan suara bahwa hal ini adalah masalah global," kata Ardern dalam koferensi pers di Christchurch.
"Masalah ini bukan hanya milik Selandia Baru. Faktanya, platform media sosial telah digunakan untuk menyebarkan kekerasan, bahkan juga memicu tindak kekerasan," tambahnya.
Dia mengimbau warga Selandia Baru untuk menghentikan publikasi Tarrant. Dia tidak ingin lagi mendengar nama pelaku kejahatan biadab tersebut disebut.
"Dia seorang teroris dan penjahat. Saya bahkan tidak ingin menyebutkan namanya ketika berbicara mengenai serangan itu," pungkas Ardern.
Seperti diketahui, pelaku berusia 28 tahun itu berhasil ditangkap, tak lama setelah serangan teror terjadi. Dia terancam hukuman seumur hidup, mengingat Selandia Baru telah meniadakan hukuman mati.
Sementara itu, puluhan kerabat korban yang tewas, mulai berdatangan dari berbagai penjuru dunia. Sebagian ingin membawa jenazah kerabat mereka untuk dimakamkan di tanah kelahiran.
Dimulainya proses pemakaman mengurangi beban bagi keluarga korban yang menganut agama Islam. Pasalnya, karena penyelidikan, penyerahan jenazah korban terpaksa ditunda. Padahal dalam hukum Islam, pemakaman harus dilakukan secepat mungkin.
Menurut Komisioner Kepolisian Selandia Baru, Mike Bush, pihak berwenang perlu mengidentifikasi para korban dengan cermat, guna menghindari potensi penuntutan. Mayoritas jenazah korban akan diberikan kepada keluarga pada Rabu waktu setempat. (AFP/I-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved