Ribuan Pengungsi Kabur dari Kamp

MI/AP/AFP/I-3
07/4/2015 00:00
Ribuan Pengungsi Kabur dari Kamp
(AFP)
SEKITAR 2.000 warga Palestina meninggalkan kamp pengungsi di Yarmuk, Suriah, Minggu (5/4). Mereka memutuskan pergi untuk menyelamatkan diri seiring dengan serangan gencar kelompok radikal Islamic State (IS) ke Yarmuk. Hatem al-Dimashqi, seorang aktivis yang bermarkas di selatan Damaskus, mengatakan sebagian pengungsi Palestina meningalkan kamp pengungsi saat tengah malam. Mereka berangkat menuju Yalda, Babila, dan Beit Sahem yang berada di selatan Damaskus.

Organisasi Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) mengatakan para pengungsi Palestina memilih tempat seadanya untuk berteduh dan menghindar dari serangan kelompok IS. "Mereka tinggal di sekolah-sekolah atau di rumah-rumah yang tidak digunakan," demikian penjelasan SOHR. Mengenai nasib pengungsi Palestina, Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengatakan warganya di Yarmuk telah menjadi korban perang sipil di Suriah. "Yang berperang pasukan pemerintah Suriah dan kelompok pemberontak, tetapi warga kami yang menanggung akibat," ujar Abbas.

Abbas menambahkan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) di Damaskus, ibu kota Suriah, telah membentuk tim untuk menangani tragedi kemanusian dan berupaya mencari solusi. "Kami telah menghubungi saudara-saudara kami di sana untuk mencari jalan keluar dan melindungi rakyat kami," tambah Abbas. Kelompok ekstremis IS mulai bergerak menyerang Yarmuk sejak Rabu (1/4) lalu. Para pejuang Palestina yang berada di Yarmuk berusaha menangkal kedatangan IS dengan memberi perlawanan. Dalam pertempuran melawan IS, para pejuang Palestina dibantu tentara pemerintah Suriah.

Anwar Raja, juru bicara Popular Front for Liberation of Palestine, kelompok yang memperjuangan kemerdekaan Palestina, mengatakan sejumlah faksi pro-Presiden Bashar al-Assad telah bersatu untuk melindungi kamp pengungsi Palestina di Yarmuk. "Lebih dari 100 warga sipil telah tewas dan disandera kelompok IS. Kini mereka (IS) telah menguasai lebih dari separuh wilayah kamp pengungsian," jelas Anwar Raja. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan laporan sekitar 18 ribu warga sipil, termasuk anak-anak, masih terjebak di Yarmuk hingga kemarin. Akibat perang sipil di Suriah, banyak pengungsi Palestina mengalami kekurangan pangan dan menderita kelaparan.

Perundingan
Perundingan untuk mengakhiri perang sipil di Suriah dibuka di Moskow, Rusia, kemarin. Namun, dengan ketidakhadiran tokoh oposisi utama, Koalisi Nasional Oposisi Suriah, termasuk wakil Amerika Serikat (AS), kemajuan pembicaraan tampaknya sulit dicapai. Dalam perundingan itu, isu kemanusiaan dibahas. Rusia, yang menjadi pendukung utama Presiden Bashar al-Assad, diharapkan menjadi mediator dalam konflik perang saudara di Suriah.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya