Tiongkok Klaim Tangkap 13 Ribu Teroris di Xinjiang

Denny Parsaulian Sinaga denny@mediaindonesia.com
19/3/2019 05:40
 Tiongkok Klaim Tangkap 13 Ribu Teroris di Xinjiang
(AFP)

 TIONGKOK pada Senin (18/3) membela tindakan keras keamanan yang kontroversial di wilayah barat jauh Xinjiang. Tiongkok mengatakan hampir 13 ribu teroris telah ditangkap di sana sejak 2014.

Beijing telah mendapat kecaman internasional atas kebijakannya di kawasan itu. Di sana sebanyak 1 juta warga Uighur dan minoritas muslim lainnya ditahan di kamp-kamp pengasingan, seperti dilaporkan kelompok-kelompok hak asasi manusia.

Dewan Negara atau kabinet Tiongkok merilis buku putih dan mengatakan pemerintah tidak kenal lelah dalam melakukan keke-rasan sesuai dengan hukum pada setiap tindakan yang menganjurkan terorisme dan ekstremisme.

Dokumen tersebut menyatakan Xinjiang telah lama menjadi bagian dari wilayah Tiongkok. Namun, kelompok teroris dan ekstremis telah memicu kegiatan separatis dengan memalsukan sejarah wilayah tersebut.

"Sejak 2014, Xinjiang telah menghancurkan 1.588 geng kekerasan dan teroris, menangkap 12.995 teroris, menyita 2.052 alat peledak, menghukum 30.645 orang karena 4.858 kegiatan keagamaan ilegal, dan menyita 345.229 salinan ba-han-bahan agama ilegal," menurut buku putih itu. "Pekerjaan antiterorisme dan perjuangan deekstremisme di Xinjiang selalu dilakukan sesuai dengan aturan hukum," jelas buku itu.

"Penekanan juga pada pencegahan penanggulangan terorisme", kata dokumen itu, termasuk mendirikan pusat pendidikan untuk menghilangkan kegiatan teroris sebelum diluncurkan.

Dikecam aktivis HAM

Laporan tersebut dengan cepat dikutuk kelompok hak asasi Uighur yang menyebutnya sebagai alas-an politik untuk menekan kaum Uighur.

Kelompok utama yang diasingkan, Kongres Uighur Dunia, langsung mengecam buku putih itu.

"Tujuan mengeluarkan apa yang disebut kertas putih ialah cara mendapatkan dukungan lokal untuk kebijakan ekstremnya dan untuk menutupi pelanggaran hak asasi manusia," kata Dilxat Raxit, juru bicara Kongres Uyghur Dunia di pengasingan, dalam sebuah pernyataan.

"Tiongkok sengaja mendistorsi kebenaran," kata juru bicara Dilxat Raxit dalam sebuah pernyataan melalui e-mail.

"Penanggulangan terorisme adalah alasan politis untuk menekan kaum Uighur. Tujuan sebenarnya dari apa yang disebut deradikalisasi ialah untuk melenyapkan iman dan melakukan sinofikasi," ujarnya.

Xinjiang telah lama menjadi bagian yang tak terpisahkan dari wilayah Tiongkok, dan kelompok etnik Uighur berevolusi dari proses migrasi dan integrasi etnik yang panjang, kata buku putih itu.

Turki ialah satu-satunya negara Islam yang secara teratur menyatakan keprihatinan tentang situasi di Xinjiang karena hubungan budaya dengan komunitas Uighur yang berbicara bahasa Turki.

Tiongkok mengecam kekhawatiran Turki sebagai tidak beralasan dan campur tangan dalam urusan internalnya.

"Tidak diragukan lagi, perjuang-an kontraterorisme dan deradikalisasi Tiongkok di Xinjiang ialah bagian penting dari perjuangan internasional melawan terorisme dan telah memberikan kontribusi penting dalam hal ini," kata buku putih itu dalam kata-kata penutup.

Xinjiang merupakan wilayah yang perbatasannya terbagi dengan beberapa negara termasuk Pakistan dan Afghanistan. Pemerintah Tiongkok mengklaim gerakan tersebut diatur 'teroris' yang terorganisasi untuk mencari kemerdekaan. (AFP/I-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya