Parlemen Voting Brexit tanpa Kesepakatan

Denny Parsaulian Sinaga denny@mediaindonesia.com
14/3/2019 04:20
Parlemen Voting Brexit tanpa Kesepakatan
((Photo by Niklas HALLE)

ANGGOTA parlemen akan memberikan suara pada Rabu (13/3) untuk memilih Inggris harus membuat keluar Uni Eropa tanda kesepakatan dalam waktu 16 hari. Voting ini harus dilakukan setelah anggota parlemen menolak rancangan perjanjian Brexit.

House of Commons diperkirakan akan memilih untuk tidak meninggalkan blok tanpa kesepakatan, meskipun tetap merupakan opsi default pada 29 Maret kecuali ada alternatif yang bisa diamankan.

Anggota parlemen pada Selasa menolak untuk kedua kalinya kesepakatan yang disepakati Brussels dan Perdana Menteri Theresa May, meskipun May mendapat jaminan dari pejabat Uni Eropa di menit-menit terakhir atas poin-poin penting.

Para euroceptics mendesak diakhirinya keanggotaan 46 tahun Inggris di Uni Eropa Inggris tanpa kesepakatan. Namun, May memperingatkan ini dapat menyebabkan guncangan ekonomi yang signifikan.

London pada Rabu mengumumkan akan membatalkan tarif impor 87% dan tidak akan melakukan pemeriksaan pabean di perbatasan dengan Irlandia jika Inggris meninggalkan Uni Eropa tanpa kesepakatan.

Rencana sementara ini bertujuan untuk menghindari lonjakan harga impor UE dan gangguan pasokan setelah Inggris meninggalkan UE.

Tarif akan dipertahankan tetapi dikurangi untuk beberapa produk pertanian, seperti impor daging sapi, babi, dan susu untuk melindungi produsen Inggris.

Jika opsi tidak ada kesepakatan dibatalkan pada Rabu, pemerintah sedang merencanakan pemungutan suara Commons lainnya pada Kamis untuk menentukan apakah akan meminta penundaan Brexit atau tidak.

Setelah kekalahannya, May memperingatkan anggota parlemen pada Selasa bahwa memilih Brexit tanpa kesepakatan dan perpanjangan, tidak menyelesaikan masalah yang dihadapi Inggris.

"UE akan ingin tahu apa maksud kami untuk perpanjangan seperti itu. Parlemen ini harus menjawab pertanyaan itu. Apakah dia ingin mencabut pasal 50?" kata May mengacu pada proses Brexit. "Apakah ingin mengadakan referendum kedua? Atau apakah ingin keluar UE dengan suatu kesepakatan tetapi tidak dengan kesepakatan ini?"

"Ini ialah pilihan yang tidak enak tapi mereka sekarang harus dihadapi," tegas May.

Penundaan Brexit

Sekelompok anggota parlemen pada Rabu akan mengajukan proposal alternatif untuk menunda Brexit hingga 22 Mei dan melakukan serangkaian perjanjian sementara dengan UE yang berlangsung hingga 2021.

Namun, kepala negosiator Brexit Uni Eropa, Michel Barnier, mengatakan Brussels telah melakukan semua yang bisa dan sekarang harus bersiap untuk kemungkinan Brexit yang berantakan.

"Kebuntuan hanya bisa diselesaikan di Inggris," tweet-nya.

Setelah memberi pengarahan pada kabinetnya tentang langkah-langkah selanjutnya, May dijadwalkan akan menghadapi banyak pertanyaan di parlemen mulai pukul 12.00 siang. Selanjutnya, segera diikuti pembaruan anggaran tahunan oleh Menteri Keuangan Philip Hammond.

Pound menikmati sedikit kenaikan setelah penurunan tajam pada Selasa. Namun, pasar saham London jatuh pada pembukaan Rabu.

Indeks acuan FTSE 100 turun 0,3% menjadi 7.131,23 poin jika dibandingkan dengan penutupan pada Selasa.

Anggota parlemen pertama kali menolak kesepakatan Brexit berisi 585 halaman pada Januari dengan selisih 230 suara.

Meskipun beberapa euroeptic berubah pikiran, May gagal menegosiasikan perubahan substantif pada kesepakatan dan skala kekalahan pada Selasa lumayan jauh, yakni 149.

Jika anggota parlemen memilih keluar tanpa kesepakatan pada Rabu dan ingin menunda Brexit, 27 negara Uni Eropa harus setuju. KTT berikutnya pada 21-22 Maret. Namun, penundaan apa pun harus singkat. (AFP/I-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya