Jutaan Pengangguran Hantui Pemilihan India

(AFP/Denny Parsaulian Sinaga/I-1)
12/3/2019 05:20
 Jutaan Pengangguran Hantui Pemilihan India
((Photo by NARINDER NANU / AFP))

 VISHAL Chowdhary masih muda, cerdas, dan bergelar MBA. Namun, dia telah menghabiskan dua tahun untuk menemukan pekerjaan di pasar pekerjaan India yang lesu.

Minimnya lapangan pekerjaan ini membuat sakit kepala Perdana Menteri Narendra Modi. Apalagi, jelang pemilihan.

Kegagalan pemerintah untuk menciptakan lapangan kerja yang memadai di ekonomi terbesar ketiga di Asia ini merupakan masalah utama yang disorot para pemilih dalam pemilihan yang akan berlangsung antara 11 April dan 19 Mei. Hasilnya akan diumumkan pada 23 Mei.

"Saya melakukan 50 wawancara kerja pada tahun lalu tetapi tidak berhasil. Satu perusahaan yang saya ikuti memecat sebagian besar stafnya, membawa saya kembali ke titik awal," kata Chowdhary, 27, kepada AFP.

Dia semakin putus asa saat akhir tahun lalu ia menjadi salah satu dari 23 ribu pelamar untuk lima pekerjaan pemerintah sebagai prajurit infanteri atau pegawai kantor. Tugas-tugasnya ialah membuat teh dan fotokopi. Ini jauh di bawah kualifikasinya.

Angka yang mengejutkan itu bukanlah hal yang aneh di India yang berpenduduk 1,25 miliar itu. Terutama untuk pekerjaan pemerintah yang aman dengan tunjangan yang menarik gerombolan kandidat yang memenuhi syarat seperti Chowdhury. Tahun lalu, 19 juta melamar 63 ribu posisi di Indian Railways.

Modi yang meraih kekuasaan pada 2014 berjanji untuk memodernisasi India dan menciptakan lapangan kerja bagi 1 juta orang muda.

Sekitar 65% orang India berusia di bawah 35 dan pertumbuhan ekonomi baru-baru ini turun di bawah tingkat 8%.

Kepala partai oposisi Kongres, Rahul Gandhi, menyerang Modi karena menciptakan bencana nasional.

Laporan menambah bukti bahwa ekonomi terpukul oleh dua kebijakan tanda tangan Modi, yakni demonetisation dan pajak barang dan jasa (GST) baru.

Hampir setengah dari tenaga kerja bekerja keras di bidang pertanian. Meskipun para pekerja beralih ke manufaktur dan jasa saat ekonomi mengalami modernisasi, angka ini lebih lambat daripada di tempat lain di Asia.

Sektor-sektor ini tidak menciptakan lapangan kerja yang cukup karena terhambat undang-undang ketenagakerjaan yang ketat dan kurangnya investasi dalam pelatihan keterampilan. Hal ini menurut Organisasi untuk Kerja Sama dan Pengembangan Ekonomi (OECD).

"Faktor lain ialah penurunan tajam investasi swasta. Ini mengakibatkan sangat sedikit lapangan kerja di sektor swasta," kata Santosh Mehrotra, profesor di Universitas Jawaharlal Nehru.

Kurangnya investasi disebabkan krisis besar kredit macet di bank-bank milik pemerintah India. Kondisi ini membuat mereka enggan memberikan pinjaman. "Masalahnya ialah kurangnya data tentang pekerjaan," kata Modi tahun lalu. (AFP/Denny Parsaulian Sinaga/I-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya