Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PADA Minggu (3/3) di arena hari bebas kendaraan bermotor (CFD) Jalan Sudirman Jakarta kurang lebih 1.000 warga Korea di Indonesia mengadakan gerak jalan damai untuk memperingati 100 tahun Gerakan Kemerdekaan Korea 1 Maret.
Pagi, pukul 06. 30 WIB itu, meski turun hujan, masyarakat Korea berkumpul membawa bendera kebangsaan untuk memperingati Gerakan Kemerdekaan Korea 1 Maret.
Mereka yang hadir dalam Gerak Jalan Damai 1 Maret itu untuk memperingati Gerakan Kemerdekaan Korea tanpa kekerasan untuk memperjuangkan kemerdekaan Korea 100 tahun lalu. Masyarakat Korea juga banyak belajar dari gerakan tanpa kekerasan Indonesia.
1 Maret 2019 merupakan peringatan 100 tahun atau seabad Gerakan Kemerdekaan Korea. Kemerdekaan 1 Maret itu merupakan salah satu dari 5 Hari Besar Nasional Korea. Pada 1 Maret 1919, tepat 100 tahun yang lalu, rakyat Korea mulai mengadakan gerakan kemerdekaan damai untuk melepaskan diri dari kekejaman penjajah Jepang.
"Sama seperti Korea yang mengalami pendudukan Jepang selama 36 tahun, Indonesia menahan penderitaan penjajahan Belanda selama 350 tahun.
1 Maret 1919, gerakan kemerdekaan anti Jepang terbesar sejak penjajahan Jepang 1910 menjadi sejarah besar Korea, ujar Duta Besar Republik Korea Selatan untuk Indonesia, Kim Chang Beom dalam keterangannya, Senin (4/3).
Baca juga: Tornado Hantam Alabama, 14 Orang Tewas
Menurut Kim, hari ini, 100 tahun telah berlalu Korea berada pada titik balik untuk Semenanjung Korea dan perdamaian dunia. Momen ini sangat berarti untuk mengadakan seminar di Jakarta dan merayakan semangatnya.
Gerakan Perdamaian 1 Maret itu juga merupakan gerakan bersama umat beragama yaitu Katolik, Kristen, dan Budha. Gerakan Kemerdekaan Korea ini mirip dengan dengan Gerakan 5 April di Tiongkok dan gerakan Ahimsa di India dan merupakan awal dari gerakan kemerdekaan tanpa kekerasan.
Para sejarawan Indonesia bahkan berpendapat bahwa Gerakan Kemerdekaan 1 Maret ini banyak kesamaannya dengan peristiwa Bandung Lautan Api.
Menurut Dubes Kim, sejak dimulainya Gerakan Kemerdekaan pada 1 Maret 1919, beberapa bulan dilakukan gerakan damai non-kekerasan di seluruh negeri.
Gerakan Kemerdekaan 1 Maret itu diikuti oleh 2 juta peserta tapi mereka diredam oleh tentara Jepang dengan letusan senjata dan sabetan samurai.
Berdasarkan buku sejarah yang ditulis oleh Park Eunsik berjudul 'The Bloody History of the Korean Independence Movement', karena keganasan tentara Jepang dalam peristiwa Gerakan Kemerdekaan 1 Maret itu, sebanyak 7.509 orang menjadi korban tewas, 15.850 korban luka, 45.306 orang ditangkap serta 715 rumah, 47 gereja, dan 2 sekolah dibakar.
Seperti dituliskan sejarah, Jepang menjajah Korea dari 1910 hingga 1945, Pemerintahan Korea ditiadakan selama 36 tahun menguasai Korea.
Untuk mewariskan dan membina semangat perjuangan Gerakan Kemerdekaan 1 Maret itu, Pemerintah Korea pun menetapkan hari tersebut sebagai Hari Besar Nasional kelima.
Hari Gerakan Kemerdekaan 1 Maret itu tidak hanya diperingati oleh rakyat Korea dalam negeri saja, tapi juga diperingati rakyat Korea yang tersebar di seluruh dunia, yang jumlah mereka kurang lebih 7.500 ribu orang. Dan pada 2019 in merupakan peringatan seabad Gerakan Kemerdekaan 1 Maret.
Sekarang kurang lebih 40 ribu orang Indonesia tinggal di Korea. Mereka adalah TKI, pelajar, karyawan, dan ilmuwan.
Menurut hasil survei tentang kesan terhadap negara yang dilakukan oleh Kementerian Kebudayaan, Pariwisata, dan Olah Raga Korea bekerja sama dengan Layanan Informasi Kebudayaan Korea (KOCIS) pada 2018, menyatakan bahwa 96,4 % orang Indonesia menyukai Korea. (RO/OL-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved