Kim Janjikan bakal Bertemu Trump Lagi

Tesa Oktiana Surbakti
02/3/2019 04:20
Kim Janjikan bakal Bertemu Trump Lagi
(AFP)

KOREA Utara (Korut) menjanjikan perundingan lebih lanjut dengan Amerika Serikat (AS), pascakonferensi tingkat tinggi (KTT) di Hanoi, Vietnam, yang berakhir tanpa kesepakatan. Kedua pihak diketahui saling membuka pintu sembari merancang strategi masing-masing.

Pertemuan putaran kedua antara Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Korut Kim Jong-un, berakhir tanpa upacara penandatanganan kesepakatan. Bahkan, tidak ada komunike bersama yang dikeluarkan.

Kedua pihak tampaknya saling menyalahkan atas kebuntuan yang terjadi. Trump menyebut Pyongyang ingin agar semua sanksi terkait dengan program senjata nuklir dicabut. Namun, dalam konferensi pers tengah malam, Menteri Luar Negeri Korut Yong Ho mengungkapkan pihaknya hanya ingin beberapa persoalan bisa melunak.

Menurutnya, Korut justru menawarkan opsi terbaik, yakni penutupan semua fasilitas produksi nuklir di kompleks Yongbyon. Walaupun menemui jalan buntu, kantor berita Korut, KCNA, melaporkan kedua pemimpin negara melakukan pembicaraan yang konstruktif dan terbuka.

Laporan KCNA menggambarkan KTT di Hanoi terbilang sukses, mengingat Kim menjanjikan pertemuan lain dengan Trump. Hal serupa juga diutarakan Trump sebelum meninggalkan Hanoi, yang berharap dapat bertemu Kim kembali.

"Terkadang Anda harus berjalan. Ini merupakan salah satu dari waktu perjalanan itu sendiri. Saya lebih suka mengambil tindakan dengan tepat ketimbang lebih cepat," ujar Trump kepada wartawan sambil menegaskan hubungannya dengan Kim semakin dekat. "Ada kehangatan di antara kami. Saya harap hal itu terus berlanjut," pungkasnya.

Sisi positif

Sementara itu, Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in, yang menjadi perantara negosiasi AS-Korut, berusaha mengambil sisi positif dari hasil pertemuan tersebut. "Ada kemajuan yang cukup berarti dari pembicaraan Trump dengan Kim. Keduanya saling membangun kepercayaan dan pemahaman," kata Moon dalam sebuah pidato di Seoul.

Sebelumnya, banyak pihak yang mengharapkan hasil signifikan dari KTT AS-Korut putaran kedua. Apalagi, kalangan kritikus memandang pertemuan bersejarah di Singapura tahun lalu, hanya menghasilkan komitmen samar dari Kim mengenai upaya denuklirisasi penuh di Semenanjung Korea.

Menjelang KTT di Hanoi, pejabat senior AS sempat mengungkapkan bahwa Korut mengajukan tuntutan pencabutan seluruh sanksi ekonomi Dewan Keamanan PBB yang diberlakukan sejak Maret 2016. Sebagian besar sanksi berfokus pada pencegahan transfer teknologi.

Akan tetapi, pembatasan teranyar mengarah pada beberapa industri potensial di Pyongyang, yakni ekspor batu bara dan bijih besi, makanan laut, dan perdagangan tekstil. "Pada dasarnya semua sanksi kecuali terkait persenjataan, memperhitungkan banyak hal. Nilainya mencapai miliaran dolar," ujar pejabat senior AS yang enggan disebutkan namanya.

Sebagai imbalannya, lanjut pejabat AS tersebut, Korut hanya menawarkan penutupan sebagian kompleks Yongbyon, yaitu sebuah situs yang mencakup berbagai fasilitas. Padahal, Korut diyakini memiliki sejumlah pabrik pengayaan uranium.

Dalam hal ini, Trump mendesak Kim untuk memasukkan seluruh program senjata nuklir mereka guna mengamankan kesepakatan agar sanksi dicabut. "Namun, nyatanya proses masih berlanjut. Masih banyak kesempatan untuk melakukan pembicaraan," imbuh pejabat tersebut. (AFP/I-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya