Guaido Tiba di Brasil untuk Cari Dukungan

(AFP/Yan/Tes/I-1)
01/3/2019 05:00
Guaido Tiba di Brasil untuk Cari Dukungan
((Photo by Sergio LIMA / AFP))

PEMIMPIN oposisi Venezuela Juan Guaido tiba Kamis (28/2) pagi di Brasil untuk mendapatkan lebih banyak dukungan termasuk dari Presiden Jair Bolsonaro.

Guaido yang diakui sebagai presiden sementara oleh sekitar 50 negara, melakukan perjalanan ke ibu kota Brasilia dari Kolombia, tempat ia tinggal sejak Jumat (22/2).

Dia bepergian ke Kolombia meskipun ada larangan perjalanan yang diberlakukan pemimpin sosialis rezim Venezuela Nicolas Maduro.

Ada kekhawatiran dia kemungkinan akan ditangkap saat kembali ke Venezuela. Guaido tiba di Brasilia sekitar pukul 04.40 GMT (11.40 WIB).

Bolsonaro akan menjadi tuan rumah bagi kunjungan pribadi Guiado itu, meskipun Guaido secara resmi disambut menteri untuk urusan luar negeri Ernesto Araujo.

Juru bicara kepresidenan Brasil Otavio Rego Barros mengatakan pertemuan dengan Bolsonaro akan berlangsung pada pukul 14.00 waktu setempat (21.00 WIB) di tempat kerja resmi presiden, Istana Planalto.

Utusan Guaido ke Brasil, Maria Teresa Belandria, mengatakan juga akan bertemu sejumlah perwakilan dari delegasi diplomatik di Brasilia yang telah mengenalnya sebagai presiden sementara Venezuela yang sah.

Brasil dan Kolombia ialah sekutu Guaido yang telah menimbun bantuan kemanusiaan yang akan dibawa pemimpin Majelis Nasional itu ke Venezuela.

Guiado telah bertemu dengan Wakil Presiden AS Mike Pence pada pertemuan Grup Lima dan sekutu regional di Bogota, Kolombia, pada Senin (25/2).

Setelah itu, dia mengatakan akan kembali ke Venezuela minggu ini, meskipun telah mendapat ancaman.

"Seorang tahanan tidak ada gunanya bagi siapa pun, juga tidak ada seorang presiden di pengasingan," kata Guaido kepada saluran televisi NTN24 pada Selasa (26/2).

"Peran dan tugas saya ialah berada di Caracas, terlepas dari risikonya dan apa pun implikasinya."

Sementara itu, Wakil Presiden Venezuela, Delcy Rodriguez, segera mengadakan pembicaraan dengan Menlu Rusia, Sergey Lavrov, di Moskow, Rusia. Ini merupakan strategi Venezuela untuk memperkuat dukungan sekutu dalam menghadapi krisis politik.

Kemenlu Rusia mengonfirmasi rencana perundingan tersebut, tetapi enggan memberikan keterangan lebih lanjut. Venezuela jatuh dalam krisis politik setelah pemimpin oposisi, Juan Guaido, menyatakan dirinya sebagai presiden interim. Kubu oposisi menyebut kepemimpinan Nicolas Maduro tidak sah.

Maduro dan sekutunya, termasuk Rusia, menuding Amerika Serikat (AS) berupaya melakukan kudeta terhadap pemerintahannya.

Dia menolak seluruh pengiriman bantuan kemanusiaan karena beranggapan hal itu menjadi jalur invasi militer AS.

Selain Rusia, kepemimpinan Maduro mendapat dukungan dari Tiongkok, Kuba, Turki, dan Iran.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya