AS Tunda Pemberlakuan Tarif Baru Tiongkok

(Aljazeera/Tes/I-1)
01/3/2019 04:40
AS Tunda Pemberlakuan Tarif Baru Tiongkok
(AFP)

KANTOR Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR) menyatakan pemerintah secara resmi menangguhkan kenaikan tarif sebesar 25% terhadap komoditas Tiongkok. Keputusan itu muncul setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, memperpanjang batas waktu gencatan senjata konflik perdagangan AS-Tiongkok, yang negosiasinya disebut mengalami kemajuan.

Sejauh ini, Pemerintah AS belum menetapkan batas waktu penangguhan tarif. Fokusnya ialah mencermati proses hukum guna mengimplementasikan penundaan tersebut. "Mengacu pada arahan Presiden AS, Kantor Perwakilan Dagang AS memublikasikan pemberitahuan melalui Daftar Federal pekan ini, untuk menunda kenaikan tarif yang dijadwalkan sampai pemberitahuan lebih lanjut," bunyi pernyataan resmi USTR.

Pada Rabu waktu setempat, Perwakilan Dagang AS, Robert Lighthizer, menjelaskan Pemerintah AS perlu mempertahankan ancaman pemberlakuan tarif pada komoditas Tiongkok selama bertahun-tahun, jika kedua negara tidak bisa mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang dagang.

AS dan Tiongkok masih harus bekerja keras untuk mengamankan kesepakatan. Tidak hanya mengakhiri perselisihan, tetapi juga kepastian bahwa setiap pihak memenuhi perjanjian. Di hadapan parlemen AS, Lighthizer memaparkan jalan panjang untuk merombak transaksi perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia.

"Kenyataan yang terjadi ialah ada tantangan yang berlangsung sangat lama," ucap Lighthizer.

Dia pun sempat membela kebijakan tarif yang diberlakukan pemerintahan Trump. Menurutnya, hal itu merupakan satu-satunya cara agar Tiongkok melakukan perubahan struktural yang besar sebagaimana harapan AS. "Jika ada ketidaksepakatan pada level saya, Pemerintah AS berharap tindakan proporsional yang mengutamakan kepentingan domestik," pungkasnya.

Pernyataan Lighthizer meredupkan harapan pelaku pasar terhadap kesepakatan perdagangan AS-Tiongkok. Indeks saham utama AS terdampak merosot ke area negatif. Adapun pasar ekuitas global mengalami kenaikan, pasca-Trump mengumumkan perpanjangan batas waktu kenaikan tarif dari 10% menjadi 25% yang awalnya jatuh pada 1 Maret 2019.

Dia memberikan sinyal pertemuan dengan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, dalam waktu dekat untuk menyelesaikan kesepakatan. "Bagaimanapun, pernyataan Lighthizer yang menyebut kesepakatan tidak akan segera terjadi, cukup mengguncang pasar saham," ujar Michael Antonelli, direktur pelaksana Robert W Baird.

Berbagai persoalan yang dihadapi AS dengan Tiongkok tampaknya tidak cukup diselesaikan dengan janji pembelian komoditas AS dengan porsi lebih AS. Lighthizer menekankan Tiongkok harus melakukan perubahan struktural, sebagai gambaran upaya jangka panjang untuk mengurai keluhan AS terhadap Tiongkok selama ini.

Tiongkok menawarkan pembelian tambahan sejumlah komoditas AS senilai US$1,2 triliun untuk periode 6 tahun. Prospek pembelian itu menguntungkan petani dan pelaku usaha yang terpukul keras oleh tarif retaliasi Tiongkok. Akan tetapi, kalangan politisi mendesak Pemerintahan Trump tidak membiarkan Tiongkok mengalihkan tujuan utama AS, yakni membenahi praktik perdagangan yang tidak adil.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya