Kim Beranjak ke Perundingan Hanoi

Tesa Oktiana Surbakti
25/2/2019 04:00
Kim Beranjak ke Perundingan Hanoi
KIM JONG-UN TINGGALKAN PYONGYANG: Foto bertanggal 23 Februari 2019 yang dirilis kantor berita Korea Utara (KCNA) pada Minggu (24/2) menunjukkan saat Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un melambaikan tangan di pintu gerbong kereta di Stasiun Pyongyang, Korea Uta(AFP/KCNA VIA KNS)

PEMIMPIN Korea Utara (Korut) Kim Jong-un bertolak dari Pyongyang menuju Vietnam dengan menggunakan moda transportasi kereta api. Kim dijadwalkan menghadiri pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Kim diketahui tiba di kota perbatasan Tiongkok, Dandong, pukul 21.00 (13.00 GMT) pada Sabtu (23/2) waktu setempat. Sebagai informasi, konferensi tingkat tinggi (KTT) AS-Korut putaran kedua diselenggarakan pada 27-28 Februari di ibu kota Vietnam, Hanoi.

Pertemuan tersebut merupakan kelanjutan dari perundingan bersejarah tahun lalu di Singapura. Semua mata akan tertuju pada KTT kali ini untuk mengetahui kemajuan denuklirisasi Korut.

Jadwal keberangkatan, sebagaimana dikonfirmasi media pemerintah Korut, merupakan pengakuan resmi pertama bahwa perundingan di Hanoi akan berlangsung. Dari laporan media pemerintah, Kim disebutkan mengunjungi Vietnam dengan niat baik.

Sangat mungkin Kim datang dengan didampingi saudara perempuannya, Kim Yo-jong, dan salah satu negosiator utama, mantan Jenderal Kim Yong-chol.

Di sisi lain, Trump juga mengungkapkan kegembiraannya akan KTT tersebut. “Kami saling jatuh cinta. Dia menuliskan surat-surat yang indah kepadaku,” ujar Trump pada rapat pertemuan dengan Kim September 2018 lalu.

Meski surat dihiasi kata-kata berbunga, periode pasca-KTT AS-Korea Utara putaran pertama cenderung ditandai dengan kontak yang dingin. Namun, untuk pertemuan putaran kedua diharapkan dapat membahas pemusnahan nuklir Korut. Meski begitu, menjelang KTT putaran kedua, agenda pertemuan tersebut masih belum jelas.

Seperti diketahui, KTT putaran pertama pada Juni lalu di Singapura jelas menjadi momentum bersejarah bagi dunia. Hal itu mengingat kedua pemimpin negara sebelumnya kerap melontarkan kata-kata pedas.

Akan tetapi, saat KTT putaran pertama, perjanjian yang ditandatangani Trump dan Kim tidak mendetail. Bisa dikatakan hanya sedikit hal yang telah dilakukan mengenai tujuan denuklirisasi.

Timbal balik

Sementara itu, Trump telah berjanji untuk mengurangi latihan militer antara Amerika Serikat dan Korea Selatan yang memantik kemarahan Korea Utara.

Namun, beberapa bulan berlalu, AS mempertanyakan timbal balik dari pemerintahan Kim.

Sejumlah gerakan seperti pembongkaran situs roket utama di Korut pada musim panas lalu dinilai sekadar isyarat sebab Korut tidak membuat komitmen untuk menghentikan pengembangan senjata atau menutup pangkalan rudal.

Di lain hal, dari saluran negosiasi level bawah baru-baru ini, menunjukkan ada banyak hal berarti yang masuk deklarasi Hanoi.

Dalam KTT putaran kedua, kedua pemimpin negara ditengarai sangat sadar akan besarnya harapan dunia agar tercapai kemajuan nyata di Hanoi.

Setidaknya akan terbuka peta jalan agar ke depan semua proses lebih terukur. Sejumlah analis pun akan mengamati dengan cermat konsesi yang disiapkan kedua pihak terkait dengan denuklirisasi.

Bagi Washington, hal yang pasti ialah Korut harus segera melepaskan senjata nuklir mereka sebelum sanksi tambahan dijatuhkan.

Namun, beberapa hari lalu, Trump mengatakan pihaknya tidak terburu-buru untuk menekan denuklirisasi itu. (BBC/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya