Perundingan AS-Tiongkok Kondusif

Tesa Oktiana Surbakti
21/2/2019 04:00
Perundingan AS-Tiongkok Kondusif
((Photo by SAUL LOEB / AFP))

PRESIDEN Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengungkapkan negosiasi perdagangan dengan Tiongkok terbilang rumit, tetapi tetap berjalan kondusif. Dia pun mengisyaratkan batas waktu gencatan senjata perang dagang yang jatuh 1 Maret 2019 dapat diperpanjang.

Sejumlah pejabat pemerintah AS dan Tiongkok kembali melakukan perundingan, Selasa waktu setempat. Negosiasi bilateral bertujuan mengakhiri perang tarif yang mengganggu perekonomian kedua negara ekonomi raksasa. "Saya pikir perundingan berjalan sangat baik," ujar Trump di sela-sela acara di Gedung Putih. Akan tetapi, dia menyebut negosiasi antara kedua negara tergolong sangat kompleks.

Setelah perundingan putaran ketiga di Beijing berakhir tanpa kesepakatan, Trump berharap batas waktu gencatan senjata diperpanjang agar terjadi kesepakatan. Apabila jangka waktu tidak diperpanjang, pemerintah AS akan menggadakan tarif impor terhadap komoditas Tiongkok senilai US$200 miliar.

"Saya belum bisa memberi tahu Anda secara pasti mengenai batas waktu. Yang jelas tanggal itu bukan tanggal ajaib. Banyak hal bisa terjadi. Kita akan lihat," tukas Trump kepada wartawan.

Pernyataan Trump memberikan sentimen positif bagi investor, serta meningkatkan kepercayaan bahwa konflik dagang akan berakhir.

Seperti diketahui, para pejabat senior mengadakan putaran negosiasi pada Kamis dan Jumat lalu. Namun, pertemuan tingkat perwakilan dilaksanakan pada Selasa. Trump sempat menegaskan pihaknya bersedia menunda kenaikan tarif impor dari 10% menjadi 25% pada komoditas Tiongkok asalkan terdapat perkembangan signifikan dalam perundingan bilateral tersebut.

Bloomberg melaporkan Gedung Putih juga mencari komitmen dari Tiongkok guna menjaga mata uangnya dari depresiasi terhadap dolar AS, yang diyakini mampu menangkal dampak pemberlakuan tarif. Berdasarkan sumber yang akrab dengan negosiasi, persoalan nilai tukar kerap dibahas dan AS diketahui memiliki kekuatan untuk mengenakan tarif yang lebih tinggi dalam merespons pelemahan yuan.

Asia menguat

Tumbuhnya optimisme Tiongkok dan Amerika Serikat (AS) yang akan mencapai kesepakatan perdagangan mengangkat sebagian besar pasar saham Asia. Sentimen positif turut mendorong kenaikan nilai tukar mata uang regional terhadap dolar AS.

Kurs yuan paling lemah di antara sejumlah mata uang yang menguat. Padahal, AS meminta Tiongkok menstabilkan nilai tukar sebagai bagian kesepakatan antara dua ekonomi raksasa global.

Pergerakan saham Wall Street pun terpantau menguat setelah Presiden AS Donald Trump mengungkapkan negosiasi perdagangan dengan Tiongkok berjalan kondusif meski prosesnya rumit.

Dia juga mengindikasikan batas waktu gencatan senjata pada 1 Maret 2019 dapat diperpanjang untuk mencapai kesepakatan. Apabila tidak terjadi kesepakatan, AS akan menggadakan tarif impor terhadap komoditas Tiongkok dengan nilai US$200 miliar.

Bursa saham Hong Kong ditutup naik 1% pada perdagangan Rabu (20/2). Sementara itu, pergerakan bursa saham Shanghai dan Tokyo masing-masing menguat 0,2% dan 0,6%. Bursa saham Seoul, Taipei, dan Manila mengalami kenaikan lebih dari 1%.

Suasana optimistis di lantai perdagangan memberikan angin segar bagi investor untuk membeli mata uang berisiko tinggi. Nilai tukar rand Afrika Selatan menguat sekitar 1% dan dolar Australia naik sekitar 0,7%. Kurs yuan Tiongkok juga menguat 0,7%. (AFP/I-1)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya