Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TUMBUHNYA optimisme Tiongkok dan Amerika Serikat (AS) akan mencapai kesepakatan perdagangan mengangkat sebagian besar pasar saham Asia. Sentimen positif turut mendorong kenaikan nilai tukar mata uang regional terhadap dolar AS.
Kurs yuan paling lemah di antara sejumlah mata uang yang menguat. Padahal AS meminta Tiongkok menstabilkan nilai tukar sebagai bagian kesepakatan antara dua ekonomi raksasa global.
Baca juga: Putra Mahkota Yakin Kunjungan di India Membuahkan Hal Positif
Pergerakan saham Wall Street pun terpantau menguat, setelah Presiden AS Donald Trump mengungkapkan negosiasi perdagangan dengan Tiongkok berjalan kondusif, meski prosesnya rumit. Dia juga mengindikasikan batas waktu gencatan senjata pada 1 Maret 2019, dapat diperpanjang untuk mencapai kesepakatan. Apabila tidak terjadi kesepakatan, AS akan menggadakan tarif impor terhadap komoditas Tiongkok dengan nilai US$ 200 miliar.
Kalangan pengamat menilai meski tidak ada perkembangan detail mengenai negosiasi, namun selama masih berjalan itu menjadi sinyal positif. Pun, Tiongkok tampak responsif terhadap seruan untuk menstabilkan nilai tukar yuan.
Bursa saham Hong Kong ditutup naik 1% pada perdagangan Rabu (20/2). Sementara itu, pergerakan bursa saham Shanghai dan Tokyo masing-masing menguat 0,2% dan 0,6%. Adapun bursa saham Seoul, Taipei dan Manila mengalami kenaikan lebih dari 1%. Begitu pula kinerja bursa saham Singapura dan Wellington yang masing-masing naik 0,4% dan 0,3%. Akan tetapi, bursa saham Sydney turun sekitar 0,2%.
Suasana optimistis di lantai perdagangan, memberikan angin segar bagi investor untuk membeli mata uang berisiko tinggi. Nilai tukar rand Afrika Selatan menguat sekitar 1% dan dolar Australia naik sekitar 0,7%. Senada, kurs yuan Tiongkok juga menguat 0,7%.
Sementara itu, nilai tukar pounds tetap menguat setelah keluarnya data pekerjaan dan upah Inggris yang positif. Harapan juga muncul dari upaya Perdana Menteri (PM) Inggris, Theresa May, untuk memenangkan perubahan pada kesepakatan Brexit dengan Uni Eropa. Meski para pemimpin Uni Eropa digadang-gadang tidak setuju terhadap perjanjian tersebut, namun analis memandang kemungkinan terdapat gerakan dari parlemen yang mendorong kesepakatan. Mengingat, perceraian Inggris dari Uni Eropa tanpa kesepakatan, dapat memukul perekonomian negara kerajaan itu.
Baca juga: Calonkan Diri, Bernie Sanders Serang Trump
"Uni Eropa menunjukkan beberapa konsesi tentang waktu perceraian, karena (Ketua Komisi Uni Eropa) Jean-Claude Juncker mengatakan penundaan di luar pemilihan parlemen Eropa tidak akan ditentang. Akan tetapi, Inggris harus memintanya dan mereka belum melakukan hal tersebut," ujar analisis pasar senior OANDA, Alfonso Esparaza.
Pada perdagangan awal, bursa saham London, Paris dan Frankfurt mengalami kenaikan masing-masing 0,3%, 0,2% dan 0,4%.(AFP/OL-6)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved