Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
ROBERT Chan menyalakan rokok pertamanya di usia 18 tahun. Sejak itu, dia dengan cepat ketagihan dengan 15 batang sehari selama lebih dari satu dekade.
Seperti banyak perokok lainnya, Chan yang tinggal di Hong Kong tidak menikmati kecanduannya. Dia ingin setop merokok dan berjuang untuk menghentikan kecanduan terhadap nikotin.
Dua tahun lalu, di ulang tahunnya yang ke-30, Chan mulai menggunakan alat pemanas tembakau untuk melepaskan uap yang mengandung nikotin. Chan merupakan salah satu dari 35 juta orang di dunia yang diyakini menggunakan rokok elektronik (vape).
"Saya ingin berhenti merokok, tetapi saya belum siap untuk berhenti mengisap nikotin. Saya melihat ini sebagai alat penghubung untuk melakukan sesuatu yang kurang berbahaya ketimbang rokok. Tidak ada abu, tidak ada bau, dan paru-paruku bernapas terasa lebih baik ketika menggunakannya," ujarnya.
Tapi, hari ini, industri itu menghadapi pertempuran. Di saat banyak perokok mulai merangkul perangkat alternatif sebagai upaya untuk berhenti merokok, pemerintah di seluruh dunia justru terbelah.
Bulan ini, pemerintah Hong Kong mengumumkan rencana untuk mendorong larangan yang kontroversial terhadap semua vape dan produk panas tidak bakar. Di bawah rancangan undang-undang yang tengah disiapkan, siapa pun yang mengimpor, membuat, menjual atau mempromosikan produk-produk cara merokok baru, akan menghadapi enam bulan penjara atau denda HK$50.000 (sekitar Rp90 juta).
Dalam menanggapi rencana pemerintah itu, Chan mengatakan undang-undang tersebut akan membuatnya memilih antara menjadi penjahat atau melakukan sesuatu yang lebih buruk bagi kesehatannya.
"Undang-undang ini akan menggiring orang kembali mengonsumsi rokok asli dan mendorong seluruh industri ke bawah tanah, ke pasar gelap," tukasnya.
Lantas, bagaimana dampak vape terhadap kesehatan? Pada 2003 lalu, apoteker Tiongkok, Han Li, mengajukan paten untuk rokok atomisasi elektronik tanpa cacat di pusat manufaktur Shenzhen, tepat di seberang perbatasan Hong Kong.
Setahun kemudian, vape pertama di dunia memasuki pasar di Tiongkok. Dalam 12 bulan, ribuan vape telah dikirim dan didistribusikan ke seluruh dunia.
Bagi sebagian orang, vaping dianggap sebagai alternatif merokok yang menyenangkan dan lebih aman. Produk ini sangat disukai di negara seperti Tiongkok dengan lebih dari 50% pria dewasa masih merokok dan kanker paru-paru menjadi penyebab utama kematian di sana.
Organisasi Kesehatan Dunia WHO telah memperingatkan bahwa efek jangka panjang dari vaping tidak diketahui dan nikotin yang dikandungnya membuat ketagihan. Saat ini, Amerika Serikat merupakan pasar vape terbesar, yakni mencapai US$5,1 miliar pada tahun lalu.
Kemudian diikuti Jepang dan Inggris. Produk-produk tersebut secara luas dipuji sebagai cara untuk menghentikan kebiasaan merokok tradisional.
Sebuah studi yang diterbitkan awal bulan ini oleh New England Journal of Medicine menunjukkan bahwa vape membantu orang berhenti merokok dua kali lipat dari mereka yang menggunakan terapi penggantian nikotin.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved