Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO), Kamis (14/2), memperingatkan bahwa perang melawan campak mulai mengendur seiring meningkatnya angka kejadian penyakit itu sebesar sekitar 50% di dunia pada tahun lalu.
WHO mengacu pada data awal yang menunjukkan tren mengkhawatirkan munculnya kembali kasus campak di tingkat global, termasuk di negara kaya tempat angka vaksinasi biasanya tinggi.
"Data kami menunjukkan adanya peningkatan kasus campak. Kami melihat hal itu di semua wilayah di dunia," ujar Direktur Imunisasi, Vaksinasi, dan Biologi WHO Katherine O'Brien.
"Kami melihat adanya wabah campak yang semakin besar. Ini bukan masalah terisolasi," imbuhnya.
WHO mengatakan pada 2018 sebanyak 229 ribu kasus dilaporkan. Jumlah itu lebih banyak ketimbang 2017 yang mencakup 170 ribu kasus.
Tahun lalu, data awal WHO menunjukkan campak telah menyebabkan 136 ribu kematian di dunia.
Baca juga: Limbah Tekstil di Balik Gemerlap Dunia Mode New York
Campak adalah penyakit sangat menular yang bisa menyebabkan diare parah, pneumonia, kehilangan penglihatan, dan di sejumlah kasus bisa fatal. Menurut WHO, campak merupakan salah satu penyebab utama kematian pada anak.
Meningkatnya jumlah kasus campak, menurut O'Brien, sangat membuat frustasi karena penyakit itu bisa dengan mudah dicegah dengan pemberian dua dosis vaksin yang telah digunakan sejak 1960-an
Hingga 2016, angka kasus campak terus menurun. Namun, sejak 2017, angka kasus campak kembali naik.
"Terjadi sejumlah wabah," ujar Kepala Program Imunisasi WHO Katrina Kretsinger mengacu paca wabah di Ukraina, Madagaskar, Republik Demokrasi Kongo, Chad, dan Sierra Leone.
Di Madagaskan, antara Oktober 2018 dan Februari 2019, dilaporkan terjadi sebanyak 66.278 kasus dengan 922 kematian.
Di negara miskin, daerah terpencil dan negara yang berkonflik yang minim akses vaksinasi menjadi masalah.
Di Eropa dan negara kaya, para pakar menyalahkan keenganan dan misinformasi mengenai vaksin.
Meningkatnya kasus campak di negara-negara kaya itu terjadi karenanya adanya laporan tidak mendasar bahwa vaksin campak menyebabkan autisme. Laporan itu disebarkan di media sosial oleh mereka yang tergabung dalam gerakan antivax. (AFP/OL-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved