Trump-Duque Bahas Penyingkiran Maduro

Tesa Oktiana Surbakti
15/2/2019 06:00
Trump-Duque Bahas Penyingkiran Maduro
(AFP/NICHOLAS KAMM)

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan akan melihat semua opsi yang berbeda dalam menghadapi situasi saat ini di Vene-zuela. Namun, itu tidak termasuk intervensi militer.

"Saya pikir ada sejumlah solusi, sejumlah opsi berbeda, dan kami melihat semua opsi," kata Trump kepada wartawan saat bertemu dengan Presiden Kolombia Ivan Duque Marquez di Gedung Putih.

Saat ditanya apakah AS akan mempertimbangkan intervensi militer di Venezuela, Trump mengatakan, "Saya tidak pernah membicarakan hal itu," seperti dilansir dari Anadolu, Kamis (14/2).

Pernyataan ini menjadi kontradiksi dengan komentar sebelumnya. Saat diwawancara CBS News, Trump mengatakan mempertimbangkan opsi intervensi militer di negara Amerika Latin itu.

Kunjungan Duque ke Washington dilakukan di tengah dorongan diplomatik dan ekonomi yang terus-menerus dari AS untuk memaksa Presiden Venezuela Nicolas Maduro menyerahkan kekuasaan kepada pemimpin Majelis Nasional Juan Guaido, yang menyatakan dirinya sebagai presiden sementara pada 23 Januari lalu.

Aksi protes

Di sisi lain, sejumlah dokter dan perawat melancarkan aksi protes di wilayah perbatasan Venezuela dengan Kolombia. Mereka menuntut Presiden Nicolas Maduro agar mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan yang masih di luar jangkauan.

"Saat ini situasi sedang kritis. Sangat mengerikan karena kami tidak memiliki apa-apa, termasuk sarung tangan, perban, maupun obat-obatan," ujar Francis Duran, perawat yang bekerja di Rumah Sakit San Antonio, dekat perbatasan Urena.

Duran masuk tim pengawal sepeda motor yang menyertai gerakan menuju perbatasan perbatasan Tiendas, yang memisahkan Urena dari Kota Cucuta di Kolombia. Kawasan tersebut menjadi tempat penyimpanan berton-ton bantuan dari AS, sebelum diperbolehkan masuk ke Venezuela.

"Saya adalah seorang perawat. Demi para pasien, izinkan bantuan kemanusiaan masuk," bunyi pesan pada salah satu sepeda motor.

Jutaan orang menderita akibat kekurangan suplai makanan dan obat-obatan. Adapun Urena merupakan medan pertempuran antara Guaido dan Maduro.

Maduro mengatakan aliran bantuan tidak lebih dari 'pertunjukan politik', serta upaya intervensi AS.

Pasukan militer yang setia terhadap Maduro pun menjalankan instruksi untuk memblokade jembatan Tienditas dengan dua kontainer pengiriman dan sebuah tanker. Akan tetapi, Guaido yang mendapat dukungan dari 50 negara, menegaskan bantuan akan masuk ke Venezuela pada 23 Februari.

Sebanyak 250 ribu sukarelawan telah mendaftar untuk membantu proses distribusi. "Kami ingin menyelamatkan banyak nyawa. Tapi, rasanya sulit karena tidak ada stok obat-obatan," tukas Fanny Alvarez, perawat yang mendesak solusi terhadap krisis di negaranya.

Bantuan tahap pertama dari AS mencakup makanan kemasan, produk kebersihan, dan obat-obatan darurat. Diperkirakan, bantuan tersebut mampu memenuhi kebutuhan 39 ribu orang hingga 90 hari.

Beberapa pasien terpaksa dibawa ke Kolombia untuk mendapatkan obat-obatan yang diperlukan. Namun sampai di sana, mereka tetap kesulitan menebus obat karena hiperinflasi membuat nilai tukar bolivar Venezuela tidak berharga. (AFP/I-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya