Menlu AS Serukan Era Baru Kerja Sama Soal Timur Tengah

Antara
14/2/2019 22:00
Menlu AS Serukan Era Baru Kerja Sama Soal Timur Tengah
((Photo by Janek SKARZYNSKI / AFP))

MENTERI Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo, pada Kamis (14/2), menyerukan era baru kerja sama soal Timur Tengah.

Pompeo juga mengatakan tidak ada negara yang mampu bertahan untuk tidak berpartisipasi dalam mengatasi tantangan regional seperti Iran, Suriah, Yaman, dan perdamaian Palestina-Israel.

Pompeo berbicara di tengah ketegangan dengan Uni Eropa atas keputusan Washington untuk mundur dari perjanjian nuklir 2015 yang dibuat
negara-negara adidaya dengan Iran serta pengumuman mengejutkan soal penarikan pasukan Amerika dari Suriah.

"Amerika Serikat mengupayakan era baru kerja sama di antara semua negara kita tentang bagaimana menghadapi isu-isu ini," kata Pompeo di hadapan para menteri luar negeri dan pejabat lain dari 60 lebih negara di Warsawa.

Pompeo menahan diri agar tidak mengkritik Iran secara langsung dan sebaliknya memasukan Iran ke daftar tantangan Timur Tengah, seraya mengakui perbedaan di antara negara-negara tentang semua masalah tersebut.

"Tidak ada satu pun tantangan kawasan yang akan diselesaikan oleh mereka sendiri. Kita harus bekerja sama demi keamanan," kata dia.

Sekutu Washington di Eropa menyuarakan kekhawatiran bahwa konferensi tersebut berubah menjadi sidang untuk menyerang Iran dan menambah
ketegangan dengan Republik Islam tersebut, yang mengecam pertemuan itu sebagai 'sirkus yang putus asa'.


Baca juga: Negosiasi Perdagangan AS-Tiongkok Berlanjut di Beijing


Sebelumnya dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Pompeo mengatakan perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah tidak dapat dicapai tanpa menentang Iran.

Iran mengatakan program rudal balistik mereka bersifat defensif dan sebagai alat pencegah. Iran juga mengerahkan pasukan ke Suriah dan Irak hanya setelah menerima permintaan dari pemerintah negara-negara tersebut.

Pertemuan Warsawa merupakan aksi langka kerja sama Timur Tengah yang mempertemukan Israel dan negara-negara Teluk Arab, termasuk Arab Saudi.

Netanyahu, yang bertemu dengan menteri luar negeri Oman di sela-sela pertemuan pada Rabu (13/2), menyebut konferensi tersebut sebagai 'titik balik bersejarah' dalam mengatasi ancaman dari Iran.

"Saya rasa ini menandai sebuah perubahan, pemahaman penting tentang apa yang mengancam masa depan kita dan apa yang harus kita lakukan untuk melindunginya serta kemungkinan dari kerja sama di luar keamanan hingga setiap ranah kehidupan bagi rakyat Timur Tengah," kata Netanyahu, yang akan menghadapi pemilihan umum pada 9 April.

"Ini terjadi di sini, di Warsawa, dan saya pikir kesimpulan utamanya yang saya miliki adalah bahwa ini harus dilanjutkan, dalam bentuk lain dan dengan cara yang lain tetapi untuk tujuan yang sama." (OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya