Italia Dorong Pemilihan Presiden Baru Venezuela

Tesa Oktiana Surbakti
14/2/2019 06:00
Italia Dorong Pemilihan Presiden Baru Venezuela
( (Photo by Yuri CORTEZ / AFP))

PEMERINTAH Italia, Selasa (12/2), menyeru Venezuela agar menyelenggarakan pemilihan presiden baru yang demokratis dan bebas. Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte dan Menteri Luar Negeri (Menlu) Enzo Moavero Milanesi menyepakati suatu teks resolusi mengenai Venezuela setelah pertemuan di kediaman perdana menteri di Roma dan menyerahkannya kepada parlemen.

Ketika berbicara di parlemen, Menlu Milanesi menggarisbawahi bahwa keprihatinan Italia mengenai situasi kemanusiaan di Venezuela dan keinginannya untuk memproduksi penyelesaian pilihan. Ia menambahkan pemerintah Italia mendukung penyelesaian damai dan menolak segala bentuk kerusuhan di negeri itu.

Sebagaimana dikutip Kantor Berita Turki, Anadolu, yang dipantau Kantor Berita Antara, kemarin, menurutnya, Roma tidak percaya bahwa pemilihan presiden terakhir di Venezuela memberi sumbangan bagi keabsahan demokratis Presiden Nicolas Maduro.

Di lain hal, Rusia pada Selasa mengatakan pihaknya bersedia memfasilitasi dialog antara pemerintah Venezuela dan oposisi, tetapi memperingatkan Amerika Serikat (AS) untuk tidak mencampuri urusan dalam negeri Carakas.

Rusia berpihak kepada Maduro dalam perselisihan dengan pemimpin oposisi Juan Guaido. Seperti diketahui, Maduro memiliki kontrol terhadap lembaga-lembaga negara termasuk militer. Meski demikian, beberapa negara Barat, termasuk AS, justru mengakui Guaido sebagai presiden sementara Venezuela.

"Kami telah menjaga komunikasi yang penting dengan pemerintahan negara ini dan bersedia membantu untuk memfasilitasi langkah untuk mencari solusi masalah ini," kata Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov seperti dikutip Kantor Berita Tass.

Bantuan kemanusiaan

Di tengah krisis yang masih berlanjut, pemimpin oposisi Venezuela, Juan Guaido, bersumpah untuk memastikan masuknya bantuan kemanusiaan yang diblokade Maduro. Pernyataan Guaido muncul dalam rapat umum di ibu kota Caracas.

Lebih lanjut, Guaido mengatakan rute dan titik pengumpulan yang baru akan mempermudah relawan mendistribusikan bantuan. Sebelumnya kepada BBC, Maduro menekankan tidak akan mengizinkan bantuan masuk ke negaranya.

Dia mengklaim hal tersebut merupakan upaya AS yang ingin mencampuri urusan domestik Venezuela. Selama beberapa tahun terakhir, penduduk Venezuela mengalami krisis ekonomi yang ditandai kekurangan suplai pangan dan obat-obatan.

"Ada sekitar 300 ribu warga Venezuela yang terancam mati apabila bantuan tidak kunjung masuk. Selain itu, dua juta warga memiliki risiko kesehatan," tegas Guaido dalam rapat umum, Selasa waktu setempat.

Guaido, yang mendapat pengakuan sebagai presiden interim Venezuela oleh AS dan sebagian besar negara-negara Amerika Latin dan Uni Eropa, mengatakan kepada pendukungnya bahwa bantuan kemanusian mulai tiba di Venezuela pada 23 Februari mendatang. Utusan Guaido akan menemui sejumlah pejabat pemeritahan Brasil pekan ini.

Guaido juga mengumumkan rencana pembuatan pusat penyimpanan bantuan kedua di negara bagian Roraima, yang berbatasan dengan wilayah tenggara Venezuela. Ketua Majelis Nasional berusia 35 tahun itu tampaknya mengandalkan dukungan sukarelawan. (I-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya