Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TEMAN, keluarga, dan juru kampanye pembebasannya merayakan kembalinya Hakeem al-Araibi ke Kota Melbourne, Australia.
Kabar sukacita tersebut datang setelah otoritas Thailand membebaskan pesepak bola yang ditahan sejak November itu atas permintaan ekstradisi pemerintah Bahrain.
Setelah pesawat yang ditumpanginya mendarat di Bandara Melbourne pada Selasa (12/2), Al-Araibi disambut ratusan pendukung, termasuk anggota klub sepak bola Pascoe Vale dan komunitas Bahrain di Australia.
Beberapa menyanyikan lagu You're Never Walk Alone. "Saya ingin berterima kasih kepada Australia. Luar biasa karena melihat semua orang Australia dan media yang mendukung saya," kata pria berusia 25 tahun itu kepada wartawan di bandara.
"Saya akan lebih kuat untuk negara ini. Australia adalah negara saya," imbuhnya. Kembalinya Al-Araibi menandai puncak dari sebuah kampanye internasional yang dilakukan para pemain sepak bola terkemuka, kelompok-kelompok hak asasi manusia, dan pemerintah Australia untuk menghentikan ekstradisinya ke Bahrain, tempat dia dikhawatirkan akan disiksa.
"Tidak mungkin mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang terlibat karena kampanye ini bukan tentang satu atau dua atau segelintir orang. Ada sekitar ratusan ribu orang dan organisasi di seluruh dunia yang memutuskan bahwa kebaikan dan kasih sayang akan mengalahkan kejahatan," kata Craig Foster, mantan pemain timnas Australia dan sekarang menjadi juru kampanye #SaveHakeem.
"Kami berjuang untuk satu jiwa karena Hakeem (Al-Araibi) mewakili semua orang yang menderita di bawah tirani, dan melalui dia, kami berharap dapat membangun dunia yang lebih baik," tambah Foster.
Seorang teman dekat al-Araibi di komunitas Bahrain-Australia yang memilih untuk tidak membuka namanya karena takut terkena dampak di Bahrain, mengatakan senang pemain bola yang dia anggap sebagai kakak laki-lakinya itu kini telah dibebaskan.
"Ini kemenangan bagi kita. Ini adalah berita terbaik yang pernah kudengar sejauh ini," katanya kepada Al Jazeera.
Yassin mengenang percakapan mereka ketika Al-Araibi ditahan dan menghadapi ancaman kurungan selama bertahun-tahun di balik jeruji besi.
"Dia senang dan menunjukkan kepada dunia tentang kenyataan kejamnya pemerintahan ini," tambahnya. Seperti diketahui, Al-Araibi, yang melarikan diri dari Bahrain pada 2014 dan telah diakui sebagai pengungsi di Australia, ditangkap otoritas Thailand pada November 2018 saat dia tiba di negara itu untuk berbulan madu.
Penangkapan tersebut atas permintaan negara Teluk. Dia kemudian dinyatakan bersalah atas vandalisme dan dihukum 10 tahun penjara meskipun menurut fakta Al-Araibi sedang bermain di sebuah pertandingan sepak bola saat dugaan kejahatan tersebut terjadi.
"Saya sangat bahagia dan sangat bersemangat. Kita semua tidak bisa berkata-kata," kata Fatima Yazbek, juru bicara Institut Teluk untuk Demokrasi dan Hak Asasi Manusia yang berbasis di Australia, mengungkapkan kegembiraannya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved