Pasukan Online Pembela Kremlin

AFP/I-1
06/4/2015 00:00
Pasukan Online Pembela Kremlin
(AFP/OLGA MALTSEVA)
KARENA upah yang besar, Lyudmila Savchuk, 34, tergiur menerima tawaran untuk masuk jajaran 'pasukan online (daring)' Kremlin, dua bulan silam.

"Pekerjaan kami ialah menuliskan komentar yang berbau propemerintah di berbagai laman, juga mengomentari segala kejadian dengan pujian bagi pemerintah dan bagi Presiden Vladimir Putin secara pribadi," kata Savchuk.

Pekerjaan Savchuk itu dikenal sebagai internet troll, yakni sebutan untuk orang yang menuliskan komentar yang cenderung provokatif pada komunitas daring, termasuk forum-forum daring, blog, chat room, atau newsgroup.

Untuk pekerjaan itu, Savchuk mengelola beberapa blog pada Live Journal, platform terkemuka di Rusia.

Secara bergantian, Savchuk menggunakan sederet identitas, dari ibu rumah tangga, mahasiswi, hingga atlet.

Setiap pagi, Savchuk menerima penugasan berupa daftar subjek untuk dikomentari.

"Misalnya ini, Ukraina menyetujui rencana reformasi untuk memperoleh bantuan IMF," kata dia sembari menunjukkan ponselnya.

Tugas Savchuk ialah merespons berita yang sesungguhnya positif itu dengan komentar provokatif seperti 'Untuk pemerintah Ukraina, kebutuhan militer lebih penting ketimbang rakyat'.

Savchuk telah berhenti dari pekerjaan itu Maret lalu.

"Seperti banyak staf lain, saya memang tergiur gajinya. Saya mendapatkan 40 ribu-50 ribu rubel (US$700-US$870) sebulan," kata ibu dua anak itu.

Savchuk mengakui pekerjaan itu berat.

Sehari, dia harus membuat rata-rata 100 komentar.

"Kita harus menulis banyak dan banyak juga orang yang dikeluarkan karena dinilai tidak mampu memberikan komentar yang sesuai dengan instruksi," kata dia.

Selama masa kerjanya, Savchuk berkantor di sebuah gedung yang tertutup untuk umum di Jalan Savushkin, di Kota Saint Petersburg.

Waktu dipanggil untuk wawancara kerja, Savchuk ingat si pewawancara memperkenalkan diri dengan nama tunggal, yakni Oleg.

Menurut Savchuk, meski ada pula sejumlah orang yang lebih dewasa dan terlihat lebih serius, mayoritas staf di sana orang-orang muda, termasuk mahasiswa.

"Mereka sebenarnya masa bodoh pada politik. Buat mereka, ini cuma salah satu cara untuk memperoleh uang," kata Savchuk.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya