Tentara Janji Setia kepada Presiden Sudan

(Aljazeera/Tes/I-2)
01/2/2019 06:40
Tentara Janji Setia kepada Presiden Sudan
( (Photo by - / AFP))

PIHAK militer bersumpah tidak akan membiarkan Sudan hancur di tengah mencuatnya protes massal. Aksi demonstrasi selama beberapa pekan terakhir menuntut berakhirnya pemerintahan Presiden Sudan, Omar al-Bashir.

Sejumlah aktvis mendesak militer untuk mendukung gerakan protes tersebut serta menekan rezim al-Bashir. "Angkatan bersenjata tidak akan membiarkan Sudan jatuh ke lubang terdalam," tegas Kepala Staf angkatan bersenjata, Jenderal Kamal Abdul Maarouf, melalui sebuah pernyataan.

Maarouf mengatakan aksi protes melawan pemerintah telah merusak citra negara. Terpisah, saat berbicara di hadapan pasukan, al-Bashir, pria berusia 75 tahun yang merebut kekuasaan dalam kudeta tidak berdarah pada 1989, menyatakan dirinya tetap berpihak pada militer atau dalam kotak suara.

Seperti diketahui, aksi protes meluas karena dipicu persoalan kenaikan harga dan jumlah uang tunai yang semakin minim. Kemudian, demonstrasi berkembang untuk melawan al-Bashir. Pada Rabu (30/1) waktu setempat, pasukan keamanan menahan putri pemimpin oposisi Sudan, Sadiq al-Mahdi. Tidak hanya itu, pihak berwenang terus menindak perlawanan yang digulirkan pengunjuk rasa.

Dua mobil keamanan milik Badan Intelijen dan Keamanan Nasional (NISS) muncul di kediaman Mariam Sadiq al-Mahdi, sehari setelah pemimpin lembaga tersebut memerintahkan pembebasan seluruh tahanan dari gerakan protes belum lama ini. "Sekarang saya dapat mengonfirmasi bahwa saudara perempuan saya telah dibebaskan. Dia sempat dibawa ke markas NISS untuk diinterogasi," ujar Rabah Sadiq al-Mahdi.

Mariam Sadiq al-Mahdi merupakan Wakil Pemimpin Partai Umma selaku oposisi. Partai tersebut dipimpin ayahnya yang pernah menjadi Perdana Menteri (PM) Sudan dan digulingkan dalam kudeta pada 1989.

Pada Selasa (29/1) malam, sekitar 186 orang pengunjuk rasa dibebaskan setelah ditahan selama berjam-jam. Pembebasan mengacu keputusan kepala intelijen, Salah Ghosh. Di lain hal, kelompok hak asasi manusia menyebut NISS menangkap lebih dari 1.000 orang, termasuk pengunjuk rasa dan pemimpin oposisi.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya