Brexit Simpan Potensi Lonjakan Kematian Warga Inggris

(AFP/Denny Parsaulian Sinaga/I-2)
30/1/2019 05:40
Brexit Simpan Potensi Lonjakan Kematian Warga Inggris
(AFP)

RIBUAN orang yang tinggal di Inggris berisiko meninggal dunia akibat serangan jantung dan stroke dalam satu dasawarsa mendatang, yakni setelah Inggris meninggalkan Uni Eropa atau dikenal dengan istilah British Exit (Brexit).

Saat itu diprediksi biaya buah dan sayuran impor akan melonjak. Demikian hasil penelitian terbaru tentang dampak Brexit terhadap warga Inggris yang dipublikasikan, kemarin.

Seperti diketahui, Inggris akan keluar dari Uni Eropa pada 29 Maret 2019, tetapi masih jauh dari kepastian kesepakatan yang menjadi fondasi keputusan tersebut.

Jika saat berlangsung Brexit tidak ada kesepakatan, terutama terkait dengan perdagangan di masa depan, ilmuwan dari Imperial College London memperkirakan akan terjadi sekitar 12.400 kematian kardiovaskular (jantung) tambahan selama 10 tahun ke depan.

"Di bawah aturan Organisasi Perdagangan Dunia, harga pisang akan naik 17%, jeruk sebesar 14%, dan buah-buahan yang paling banyak kami impor jelas akan menjadi yang paling sensitif dalam hal kenaikan harga," kata Christopher Millet, dari unit evaluasi kebijakan kesehatan dan penulis utama studi di Imperial.

"Jika tidak ada kesepakatan, kami memperkirakan 12.400 kematian tambahan antara 2021 dan 2030, bahkan dengan aturan perdagangan bebas, kami memperkirakan sekitar 6.000 kematian gabungan akibat stroke dan serangan jantung," imbuhnya.

Menurut data British Heart Foundation, setiap tahun sekitar 42 ribu orang tewas akibat penyakit kardiovaskular.

Konsumsi buah turun

Sementara itu, buah-buahan dan sayuran yang mengandung nutrisi penting dari serat, vitamin, mineral, dan antioksidan, akan menjadi mahal pasca-Brexit.

Berdasarkan data perdagangan, pada 2017, Inggris mengimpor 84% dari total buah yang dikonsumsi dan sayuran sebanyak 48%.

Sebagian besar berasal dari negara-negara Uni Eropa. Semisal, jeruk didatangkan dari Spanyol.

Namun, buah-buahan impor dari luar Uni Eropa, juga dapat terganggu karena Inggris harus mengadopsi aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Hal itu berpotensi menghadapi pemeriksaan pabean yang lebih lama dan tarif yang lebih tinggi.

Untuk mendapatkan estimasi, Millet dan tim menggunakan statistik WTO dan bea cukai Inggris terakhir, kemudian menerapkannya pada model kebijakan makanan yang menggabungkan berbagai data diet, ekonomi, dan kesehatan.

Tujuannya untuk memprediksi dampak pada konsumsi buah dan sayuran di bawah empat skenario Brexit yang bakal terjadi.

"Hasilnya, bahkan jika Inggris mencapai kesepakatan perdagangan bebas dengan negara lain di luar Eropa, konsumsi buah dan sayuran akan turun setidaknya 3%," kata para peneliti.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya