Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MANTAN bos perusahaan waralaba kopi Starbucks mengaku serius mempertimbangkan maju sebagai calon presiden dalam pemilihan umum Amerika Serikat pada 2020. Howard Schultz, yang mundur dari Starbucks tahun lalu, menyatakan keinginannya maju sebagai capres dari jalur independen.
Lewat serangkaian tulisan di Twitter, dia menyayangkan Partai Demokrat dan Republik di AS yang sudah sangat terpecah. Oleh karenanya, dia hanya ingin maju lewat rute tengah.
"Saya sangat mencintai negara ini dan saya serius mempertimbangkan maju ke pilpres sebagai calon independen," tulis Schultz.
"Mari kita diskusikan bagaimana caranya kita dapat menciptakan lebih banyak kesempatan bagi masyarakat," lanjut dia.
Dalam wawancara dengan program 60 Minutes di kantor berita CBS, dia mengaku sebenarnya adalah simpatisan Demokrat sejak lama. Namun, ia menyebut sistem dua partai di 'Negeri Paman Sam' itu sudah benar-benar membuat masyarakat terbelah.
"Kita sedang hidup di masa presiden saat ini tidak layak menjadi presiden. Kita juga hidup saat dua partai tidak melakukan hal yang terbaik untuk masyarakat Amerika. Kedua partai ini setiap harinya hanya melakukan manuver politik balas dendam," sebut Schultz, seperti dikutip dari laman BBC, Senin (28/1).
Baca juga: Warga Pribumi AS Protes Rencana Tembok Perbatasan Trump
Julian Castro, kandidat capres dari Demokrat, mengkritik rencana Schultz. Dia menilai jika Schultz pada akhirnya menjadi capres, hal itu hanya akan membuat Donald Trump kembali menjadi presiden karena suara masyarakat akan lebih terpecah.
"Saya menyarankan Schultz untuk memikirkan kembali dampak negatif yang mungkin terjadi," kata Castro.
Merespons berbagai kritik usai pengumumannya, Schultz menegaskan dirinya hanya "ingin melihat masyarakat Amerika menang."
"Saya tidak peduli jika Anda Demokrat, Libertarian, Republik. Ayo sodorkan semua ide-ide kalian dan saya akan menjadi tokoh independen untuk menindaklanjuti ide-ide tersebut. Mengapa kalian sebaiknya melakukan itu? Karena saya tidak ingin bergabung dengan partai politik," tegas Schultz.
Schultz, mantan penjual mesin pembuat kopi, tumbuh besar di perumahan publik di Brooklyn, New York. Dia mulai bekerja di gerai Starbucks Seattle pada 1982. Kala itu, Starbucks hanya memiliki 11 gerai.
Dia kemudian menguasai perusahaan itu pada 1987. Saat dirinya mundur pada 2018, Starbucks telah membuka sekitar 28 ribu gerai di 77 negara di seluruh dunia. (Medcom/OL-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved