Rompi Kuning Tantang Macron

(AFP/Yan/I-1)
28/1/2019 06:20
Rompi Kuning Tantang Macron
((Photo by Christophe ARCHAMBAULT / AFP))

Ribuan demonstran rompi kuning kembali ke jalan-jalan Prancis Sabtu (26/1) untuk memprotes kebijakan Presiden Emmanuel Macron. Demonstrasi juga melibatkan bentrokan dengan polisi di beberapa kota.

Polisi menembakkan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan pengunjuk rasa di Place de la Bastille di Paris, salah satu daerah protes reguler. Sementara itu, beberapa demonstran melemparkan batu ke arah polisi.

Prefektur setempat melaporkan 223 demonstran ditangkap di Paris. Sementara itu, kementerian dalam negeri memperkirakan jumlah jumlah demonstran di pekan ke-11 protes sekitar 69 ribu di seluruh Prancis. Lebih sedikit jika dibandingkan dengan 84 ribu pada Sabtu, pekan lalu.

Demonstrasi mulai meletus pada pertengahan November akibat reformasi ekonomi Macron. Namun, sejak itu berkembang menjadi aksi unjuk rasa yang lebih luas yang menyerukan pengunduran diri mantan bankir investasi yang menurut para kritikus tidak memperjuangkan ekonomi rakyat Prancis pada umumnya.

Protes berlanjut

Di Paris dan kota-kota lain, gerakan rompi kuning telah menyerukan agar protes berlanjut hingga malam.

Namun, polisi dengan cepat membubarkan beberapa ratus pengunjuk rasa di alun-alun Republique simbolis ibu kota dengan menggunakan granat setrum serta gas air mata dan meriam air.

Bentrokan juga meletus di Nantes di Prancis Barat dan di selatan Kota Montpellier.

Menteri Dalam Negeri Christophe Castaner di Twitter mengkritik para perusuh yang menyamar sebagai pengunjuk rasa rompi kuning setelah bentrokan Sabtu.

Protes akhir pekan terhadap pajak Macron dan kebijakan sosial terjadi ketika perpecahan muncul di antara rompi kuning. Perpecahan karena bingung ke mana gerakan harus dibawa.

Dalam perkembangan politik baru, perawat berusia 31 tahun bernama Ingrid Levavasseur mengatakan pekan ini bahwa dia akan memimpin rompi kuning untuk pemilihan Eropa pada Mei.

Sebuah survei awal setelah pengumuman menunjukkan bahwa mereka akan mendapatkan 13% suara yang terhormat. Namun, tidak semua demonstran menyambut ini.

"Ada inti keras yang siap untuk terus berjuang," kata Gilbert Claro yang berusia 42 tahun dari pinggiran kota Paris. "Tetapi gerakan tidak dimaksudkan untuk menjadi politikus," tambahnya.

"Kita harus terus menekan di jalan-jalan agar tuntutan diterima," kata Virginie, aktivis berusia 40 tahunan yang mengatakan dia telah terlibat dalam protes sejak awal.

Dia dan banyak pengunjuk rasa lainnya menginginkan referendum. Namun, gagasan ini telah secara konsisten ditolak pemerintah.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya