Sebagian WNI dari Yaman Tiba Sore Ini

Haufan Hasyim Salengke
05/4/2015 00:00
Sebagian WNI dari Yaman Tiba Sore Ini
Lalu Muhammad Iqbal, Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kemenlu RI(ANTARA/Rosa Panggabean)

SEBAGIAN dari 262 warga negara Indonesia (WNI) dari Yaman menurut rencana mendarat di Tanah Air sore ini.

Pemulangan WNI itu terkait dengan situasi keamanan akibat pertempuran antara tentara Yaman yang didukung serangan udara pasukan koalisi Teluk dan kelompok pemberontak Houthi.

Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia (WNI) dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI Lalu Muhammad Iqbal mengatakan sebagian WNI tersebut telah berada di Gizan, Arab Saudi.

Selanjutnya, mereka akan kembali dievakuasi ke Muskat, ibu kota Oman.

"Dari Muskat malam ini (kemarin), kita akan menerbangkan dengan pesawat ke Jakarta. Perkiraan tiba di Bandara Soekarno-Hatta besok (hari ini) sekitar pukul 15.00 WIB," ungkap Iqbal kepada Media Indonesia, kemarin.

Ia menambahkan sebagian WNI lainnya menurut rencana juga diterbangkan dari Gizan ke Muskat hari ini.

Selanjutnya dari Muskat, mereka akan diterbangkan ke Indonesia.

Informasi yang diperoleh Kemenlu RI, sebanyak 40 WNI dari Yaman telah dievakuasi ke Kota Al-Hudaydah, Yaman, yang berbatasan dengan Arab Saudi.

Mereka diberangkatkan ke Al-Hudaydah dengan menggunakan bus yang dikawal tentara Yaman.

Dalam upaya penyelamatan WNI, tim evakuasi dari Jakarta masuk ke Yaman melalui perbatasan Oman.

Kini mereka sudah berada di Kota Tarim di daerah lembah subur Hadramaut, Yaman. Proses evakuasi WNI dari Yaman akan dilaksanakan hari ini.

Data Kemenlu RI mengungkapkan sebanyak 4.159 WNI berada di Yaman, sebagian besar tinggal di wilayah timur dan barat.

Mereka terdiri atas 2.626 mahasiswa dan pelajar serta 1.488 pekerja profesional bidang minyak dan gas bumi.

Sisanya ialah diplomat serta pegawai Kedutaan Besar RI dan keluarga mereka.

Houthi mundur

Serangan udara pasukan koalisi Teluk yang dipimpin Arab Saudi berhasil memukul mundur kelompok pemberontak Syiah Houthi dari Kota Aden.

Aden yang berada di wilayah selatan Yaman merupakan benteng pertahanan Presiden Yaman Abed Rabbo Mansour Hadi yang sebelumnya meninggalkan Istana Presiden di Sana'a, ibu kota Yaman.

Keberhasilan pasukan koalisi Teluk yang melibatkan delapan negara memukul mundur kelompok pemberontak Syiah Houthi tidak serta-merta membuat persoalan selesai.

Di sisi lain, kelompok pemberontak Sunni yang berafiliasi dengan jaringan Al-Qaeda justru merebut sebuah pangkalan udara di wilayah tenggara Yaman.

"Pada Jumat (3/4), Al-Qaeda menduduki markas tentara regional di Mukalla, ibu kota Provinsi Hadramawt," kata seorang pejabat militer.

Kini mereka menguasai hampir seluruh kota itu sehingga dengan leluasa menyerbu penjara dan membebaskan 300 narapidana sehari sebelumnya.

Dengan operasi militer dari pasukan koalisi yang dipimpin Saudi bersandi Operation Decisive Storm sejak 26 Maret lalu, kini Yaman berada di depan gerbang kehancuran.

Kepala Bantuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Valerie Amos mengatakan sekitar 519 orang tewas dan hampir 1.700 terluka dalam dua minggu pertempuran.

Badan Perlindungan Anak PBB juga mengatakan sedikitnya 62 anak tewas dan 30 luka-luka dalam sepekan terakhir di Yaman.

Mengenai perkembangan yang mengkhawatirkan, Dewan Keamanan PBB menggelar pertemuan pada Sabtu (4/4) waktu setempat atau pukul 21.00 WIB.

Juru bicara Rusia untuk PBB Alexey Zaytsev mengajukan proposal yang mendesak penghentian serangan udara pasukan koalisi sementara guna memberi jalan untuk bantuan kemanusiaan kepada warga sipil Yaman.

(AFP/I-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya