Melawan Proyek Tembok Perbatasan Trump

Tesa Oktiana Surbakti
21/1/2019 19:52
Melawan Proyek Tembok Perbatasan Trump
(AFP)

DI sebuah pekarangan besar Kota Mission, Texas, satu keluarga bermain layaknya anak-anak, belajar memancing, memetik kapas hingga mengumpulkan semangka. Namun kebahagian mereka tidak abadi.

Tinggal di perbatasan Meksiko membuat keluarga Cavoz bisa sewaktu-waktu kehilangan hartanya, jika tembok perbatasan direalisasikan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Mereka tidak akan menyerah tanpa perlawanan.

Baca juga: Laju Pertumbuhan Ekonomi Tiongkok Semakin Melambat

Di ruang saudaranya Eloisa, Jose Alfredo Cavazos atau dikenal Fred, menunjukkan banyak surat yang dikirim oleh pemerintah federal."Properti kami saat ini dalam bahaya," ujar pria berusia 69 tahun, yang tinggal bersebelahan dengan saudara perempuannya.

Pembangunan proyek tembok perbatasan sepertinya tidak dapat dihindari. Proyek tembok perbatasan akan melewati properti Cavazos di lembah Rio Grande, apabila Kongres AS menyetujui anggaran proyek pada Maret 2018.

Hal ini memang terpisah dari perdebatan luas mengenai pendanaan proyek dinding perbatasan yang mengguncang Washington selama beberapa pekan. Tidak hanya itu, perdebatan turut memicu pertikaian antara Trump dan anggota parlemen dari Partai Demokrat, yang kemudian menyebabkan penutupan sebagian pemerintah (shutdown) terpanjang dalam sejarah AS.

Pemerintah federal telah menyurvei lahan yang sebagian besar milik keluarga Cavazos, sebagai langkah awal menuju pembangunan. Keluarga tersebut jelas menentang proyek dinding perbatasan. Pemerintah federal kemudian mengajukan gugatan dan memenangkan kasus pada tahap awal. Namun, klan Cavazos belum menyerah. Mereka mengajukan banding terhadap keputusan awal dan diwakili secara pro bono oleh Proyek Hak Asasi Manusia (HAM) Texas.

Fred Cavazos menggerakkan tangannya di atas peta yang terlampir pada setiap tumpukan dokumen resmi. Apabila tembok perbatasan dibangun sesuai rencana, proyek tersebut akan membentang di sepanjang tanggul yang mencegah datangnya banjir. Tembok tersebut juga menghalangi akses menuju lahan keluarganya, di mana mereka memelihara kawanan kecil sapi dan kambing.

Kekhawatiran lainnya ialah keluarga Cavazos akan kehilangan pendapatan yang diperoleh dari penyewaan rumah kecil di tepian sungai, yang kerap menjadi lokasi liburan akhir depan. Fred mengungkapkan penghasilan keluarga dari penyewaan properti tersebut mencapai US$ 35 ribu. Keluarganya, lanjut dia, tidak akan bisa hidup tanpa pemasukan tersebut. Dia pun merisaukan keberadaan dinding perbatasan yang menghalangi pemandangan.

"Siapa yang mau menghabiskan akhir pekan sambil menatap dinding beton raksasa? Lagipula apakah penyewa diizinkan menyeberangi perbatasan bolak balik? Itu yang tidak kita ketahui," cetus Rey Anzaldua, saudara sepupu Fred Cavazos. "Memang itu tetap menjadi tanah kita, tetapi tidak akan bernilai lagi," imbuhnya lirih.

Selain kesulitan keuangan, keluarga Cavazos akan menghadapi perpecahan nyata karena dipisahkan dinding perbatasan. Sejak nenek moyang mereka yang berasal dari Spanyol, menetap di tanah AS pada abad ke-18, keluarga tersebut merasa kehilangan kampung halaman selama bertahun-tahun.

"Tidak ada dinding peratasan. Tanah ini sangat bernilai bagi kami, lebih dari uang. Kami sungguh mencintai tanah ini," ucap Anzaldua yang menggunakan topi veteran Vietnam.

Roy Snipes, seorang pendeta lokal yang membantu perawatan kapel La Lomita di Kota Mission, berharap proyek tembok perbatasan tidak berdampak pada monumen bersejarah tersebut. Kendati demikian, dia tidak menampik lahan kapel akan menjadi tak bertuan karena berada di antara penghalang dan sungai. Snipes yang telah tinggal di wilayah tersebut selama 26 tahun, menekankan pembangunan dinding perbatasan akan menodai tempat yang sakral. Di lain sisi, gereja tersebut akan menjadi tempat perlindungan bagi imigran ilegal.

Baca juga: Badai Salju Ganggu Jadwal Penerbangan di AS

"Tidak ada petugas yang datang ke sini untuk menginterograsi dan memeriksa surat-surat," kata Snipes, pendeta berusia 73 tahun yang memakai salib logam besar dan jubah putih. Keuskupan setempat menolak pemerintah menyurvei lahan tersebut, yang ditanggapi dengan pengaduan oleh otoritas federal. Keputusannya akan keluar pada Februari mendatang.

"Bagaimanapun sulit melawan pemerintah. Apa yang kami lakukan saat ini adalah menunda selama mungkin. Kami ingin berjuang cukup lama, sehingga bisa saja Trump keluar dari Washington dan proyek dinding perbatasan akan berhenti," kata Anzaldua menimpali.(AFP/OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya