Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BANK Sentral Tiongkok (PBOC) menyuntikkan dana sebesar US$ 83 miliar dalam sistem keuangan negara, guna mengantisipasi krisis uang tunai yang berdampak pada pelemahan ekonomi domestik.
Pemangku kebijakan Tiongkok berjanji menambah langkah stimulus, serta melakukan upaya perlindungan sektor ketenagakerjaan. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok melemah ke titik terendah dalam 28 tahun terakhir. Serangkaian kebijakan tahun lalu, mulai dari proyek kereta api berskala besar hingga pemangkasan tarif pajak, tampaknya belum berdampak signfikan. Pendinginan aktivitas berjalan lebih cepat dari yang diperkirakan.
Baca juga: Aksi Protes Buruh di Bangladesh Berujung Pemecatan
"Beritanya sudah jelas, ekonomi nasional membutuhkan bantuan," pungkas ekonom senior untuk negara berkembang di Hong Kong, Trinh Nguyen.
Dalam operasi pasar terbuka pada Rabu ini, tercatat suntikan terbesar dari perbankan. Hal itu muncul sehari setelah pemerintah Tiongkok, Bank Sentral dan Kementerian Keuangan, menawarkan jaminan kepada investor. Di antaranya dengan memberikan sinyal belanja lebih besar, berikut dukungan kebijakan lainnya.
Data neraca perdagangan Desember 2018 yang baru dirilis awal pekan ini, mengejutkan banyak pihak. Aktivitas manufaktur tercatat menurun, sehingga memicu spekulasi urgensi kebijakan yang cepat dan agresif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi terbesar kedua di dunia itu. Saat ini, otoritas terkait sepakat bahwa perekonomian domestik membutuhkan dukungan yang lebih kuat. "Dan suntikan besar hari ini mencerminkan hal tersebut," imbuh Nguyen.
PBOC menyatakan suntikan aliran dana bertujuan memastikan kecukupan dana dalam sistem kekuangan. Mengingat, terdapat tekanan dari puncak pembayaran pajak pada pertengahan Januari. Belum lagi, besarnya permintaan pengambilan uang jelang Tahun Baru Imlek. "Likuiditas keseluruhan sistem perbankan turun sangat cepat," bunyi keterengan resmi POBC.
Suntikan cukup besar mendekati liburan panjang dinilai sebagai hal biasa. Namun, adanya penambahan jauh lebih berat dari biasanya dan mengikuti pemotongan besar dalam rasio cadangan perbankan yang diumumkan bulan ini. Total sebesar US$ 116 miliar akan dikucurkan untuk pinjaman perbankan yang baru.
Untuk tahap pertama, pemangkasan 50 basis poin berlaku pada Selasa waktu setempat. Pemotongan dengan besaran serupa, dijadwalkan 25 Januari mendatang. Langkah tersebut diambil setelah data pasokan uang menunjukkan beberapa alat pengukur kredit utama di Tiongkok, terus merosot hingga rekor terendah. Padahal, pemerintah berupaya menyalurkan lebih banyak dana ke sejumlah perusahaan yang kekurangan, serta menurunkan beban finansial.
Di lain sisi, otoritas berwenang telah mendesak perbankan meningkatkan pinjaman kepada korporasi yang mengalami kesulitan, termasuk memberikan insentif. Adapun pihak perbankan khawatir kredit macet setelah regulasi panjang yang ketat atas pinjaman berisiko.
Banyak dunia usaha menghadapi penjualan yang melambat, hingga tidak berminat melakukan investasi baru. Pinjaman korporasi jangka menengah dan panjang baru periode Desember 2018 pun turun menjadi kurang dari setengah rata-rata capaian Desember pada umumya.(Channelnewsasia/OL-6)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved