Hukuman Mati Tingkatkan Tensi Diplomatik

Denny Parsaulian Sinaga
16/1/2019 03:00
Hukuman Mati Tingkatkan Tensi Diplomatik
((Photo by HANDOUT / HO / AFP) )

KEPUTUSAN pengadilan Tiongkok untuk menjatuhkan hukuman mati pada seorang penyelundup narkoba Kanada yang dinyatakan bersalah telah meningkatkan pertikai-an diplomatik. Menurut para ahli, perseteruan Tiongkok-Kanada telah naik menjadi permainan politik sandera.

Beijing dan Ottawa telah cekcok sejak bulan lalu, ketika Kanada menangkap kepala pejabat keuangan perusahaan telekomunikasi Tiong-kok Huawei. Penangkapan itu dilakukan atas permintaan AS terkait dengan pelanggaran sanksi Iran.

Sebagai pembalasan, pihak berwenang Tiongkok telah menahan dua warga Kanada. Seorang merupakan mantan diplomat dan seorang konsultan bisnis. Keduanya dituduh membahayakan keamanan nasional Tiongkok.

Kemudian kasus Robert Lloyd Schellenberg yang sebelumnya tidak banyak diketahui, yang ditangkap pada Desember 2014, tiba-tiba mengemuka.

Dia telah divonis 15 tahun penjara pada November. Tetapi, sebulan kemudian, pengadilan yang lebih tinggi mengajukan banding dan memerintahkan pengadilan ulang karena menilai hukuman Schellenberg terlalu ringan.

Sebuah persidangan baru telah dilakukan dengan tergesa-gesa di kota timur laut Dalian karena jaksa penuntut memberikan bukti baru dan seorang saksi baru menunjukkan bahwa Schellenberg terhubung dengan sindikat internasional. Sindikat ini disebut jaksa berencana mengirimkan 222 kilogram metamfetamin ke Australia. Dia memilih kota pelabuhan untuk berkunjung sebagai turis.

Waktu dan kecepatan hukuman Schellenberg, dan dimasukkannya bukti baru yang menghadirkannya sebagai pemain kunci dalam transaksi narkoba, menimbulkan kecurigaan di antara para pengamat.

Politik penyanderaan

"Bermain politik penyanderaan, Tiongkok mempercepat persidangan kembali terhadap tersangka Kanada dan menghukumnya mati dalam upaya yang cukup transparan untuk menekan Kanada untuk membebaskan CFO Huawei," kata Direktur Eksekutif Human Rights Watch Kenneth Roth dalam tweet.

Donald Clarke, seorang profesor Universitas George Washington yang berspesialisasi dalam hukum Tiongkok, bahkan memiliki istilah yang lebih buruk. "Diplomasi ancaman kematian," kata Clarke.

Para ahli mengatakan bahwa pembalasan jarang terjadi di Tiongkok, terutama yang menuntut hukuman yang lebih keras. Tetapi, kelompok-kelompok HAM mencatat bahwa pengadilan tidak independen dan dapat dipengaruhi Partai Komunis yang berkuasa.

"Apa yang tidak biasa adalah bagaimana kasus ini bergeser dari penanganan yang sangat lambat ke gerakan yang tiba-tiba dan cepat melalui pengadilan," kata Margaret Lewis, profesor hukum di Seton Hall University.

Schellenberg mengatakan dia tidak bersalah dan dijebak oleh seorang kenalan, memiliki 10 hari untuk naik banding ke pengadilan tinggi yang sama yang menolak banding pertamanya. Pengadilan kemungkinan akan mengonfirmasi hukuman tersebut dan kasusnya akan naik ke Mahkamah Agung Rakyat.

Pengadilan tinggi dapat mengonfirmasi hukuman mati, memberinya hukuman mati dengan penangguh-an dua tahun yang akan dikonversi menjadi hukuman penjara yang panjang. "Prediksi saya adalah bahwa MA akan duduk pada keputusan peninjauan selama nasib Meng tetap tidak ditentukan,'' kata Clarke. (AFP/I-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya