Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SEPERTI pernikahan di Arab Saudi pada umumnya, mempelai pria yang memegang pedang dekoratif biasanya larut bergoyang dalam atraksi tarian tradisional.
Pernikahan di negeri kaya minyak itu memang identik dengan kemewahan dan daftar tamu yang panjang sebagai simbol kemakmuran dan kewajiban sosial yang sudah menjadi tradisi.
Namun, hal seperti itu kerap memicu ketegangan bagi calon pengantin pria yang menanggung sebagian besar biaya pernikahan bernilai selangit.
Namun, kini, secara perlahan, stigma pernikahan mewah sudah dipatahkan kalangan milenial. Basil Albani menjadi salah satu pengantin yang berani mengadakan pesta pernikahan di rumah yang menentang segala tradisi keluarga dan tekanan sosial.
Hasilnya keputusan itu menghasilkan penghematan besar bagi koceknya. Hanya ada 30 kerabat dan teman dekat yang diundang ke pesta pernikahan eksekutif asuransi berusia 26 tahun itu.
Di rumah leluhurnya, wilayah barat Jeddah, Albani tak lupa menyediakan menu hidangan khas tradisional, yakni kabsa. Bagaimanapun Albani dipandang sebagai sosok mikroskopis seturut standar Saudi.
"Banyak orang tergila-gila dengan pesta pernikahan, mengundang ratusan tamu dan menghabiskan jutaan dolar dalam satu malam. Mereka memang mendapatkan penyanyi, band, dan thobes terbaik. Tapi, kami ingin melakukan hal berbeda, cukup dengan perayaan kecil di rumah, tetapi bisa menyenangkan," tutur Maan Albani, saudara lelaki Basil Albani.
Meski belum lazim, menggelar pesta pernikahan di rumah bisa melambangkan upaya perang oleh generasi muda terhadap kemewahan.
Langkah tersebut tampaknya kini mendapat perhatian luas di tengah upaya penghematan negara akibat imbas melemahnya harga minyak mentah dunia.
Seperti diketahui, pemerintah Saudi telah mengeluarkan sejumlah kebijakan penghematan. Seperti memotong subsidi dan penaikan pajak pertambahan nilai yang telah mengakibatkan stagnasi pendapatan rumah tangga di negara itu.
Akibatnya, sejumlah pengamat menyebut telah terjadi penurunan gaya hidup di Saudi dan menjalar ke pesta pernikahan. Penyelenggara pekan pernikahan internasional di Arab Saudi mengungkapkan pengeluaran tahunan untuk pernikahan di negara kerajaan itu lebih dari SR2 miliar, atau setara US$533 juta.
Dua perusahaan perencana pernikahan berpelanggan besar di Saudi mengatakan kini rata-rata pengeluaran biaya pernikahan telah turun 25% dalam setahun terakhir. Banyak pasangan memutuskan untuk mengurangi tingkat kemewahan, termasuk meniadakan parade.
Seorang penjual eceran kartu undangan di Riyadh menyebut bisnisnya melesu selama periode itu. Keuntungannya bahkan anjlok 70% lantaran banyak pelanggan menuntut desain mewah dengan harga murah.
"Semestinya pernikahan memang tidak dimulai dengan pinjaman bank," tukas Murtada al-Abawi, pengemudi Uber berusia 29 tahun yang pada 2016 lalu menolak menggelar pesta pernikahannya secara mewah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved