Eropa tidak Turuti Saran AS Boikot Huawei

Tesa Oktiani Surbakti
14/1/2019 08:20
Eropa tidak Turuti Saran AS Boikot Huawei
((Photo by Nicolas ASFOURI / AFP))

MASYARAKAT Eropa memberikan respons beragam atas permintaan pimpinan Amerika Serikat (AS) untuk memboikot peralatan telekomunikasi Huawei berjaringan 5G.

Meski beberapa lembaga pemerintahan merasa tidak terganggu atas tudingan mata-mata terhadap produsen raksasa asal Tiongkok, sebagian mendukung larangan tersebut.

Tantangan teranyar bagi Huawei berasal dari Polandia yang menyatakan telah menangkap seorang eksekutif telekomunikasi Tiongkok yang dicurigai sebagai mata-mata. Media setempat mengidentifikasi karyawan yang ditangkap merupakan Direktur Huawei.

Pada Sabtu (12/1), Huawei telah memecat karyawan yang ditangkap di Polandia. Kepada AFP, perusahaan memastikan tindakan yang dilakukan karyawan tersebut tidak memiliki korelasi dengan Huawei.

Seperti diketahui, sebelumnya, putri pendiri Huawei telah ditangkap di Kanada. AS kemudian berupaya memasukkan Huawei ke daftar perusahaan yang perlu diperhatikan internasional karena alasan keamanan.

Beberapa negara Asia Pasifik bahkan mengikuti seruan Washington untuk memboikot produk Huawei. Akan tetapi, respons yang muncul di Eropa lebih bervariasi. Hal itu didasari kemampuan fasilitas 5G Huawei yang dianggap sangat menarik, yakni jauh melebihi fasilitas yang ditawarkan Ericsson asal Swedia, Nokia dari Finlandia, dan Samsung asal Korea Selatan.

Seperti diketahui, teknologi generasi kelima (5G) merupakan lompatan kuantum dalam kecepatan komunikasi nirkabel. Hal itu menjadi kunci untuk mengembangkan internet dalam berbagai hal, termasuk self-driving car. Hal itu diperlukan Eropa yang berupaya menyebarkan terobosan teknologi tersebut secepat mungkin.

"Operator melihat adanya alternatif, tetapi menyadari Huawei saat ini lebih inovatif dan mungkin lebih baik di ranah 5G," ucap Dexter Thillien, analis dari Fitch Solutions.

Di bawah tekanan

AS, Australia, dan Jepang telah memutuskan untuk memblokir jaringan internet 5G Huwaei. Lain halnya di Eropa, operator utama Portugal MEO justru telah meneken kesepakatan dengan Huawei pada Desember lalu, saat kunjungan Presiden Tiongkok Xi Jinping.

Perusahaan asal Portugal itu memuji Huawei lantaran memahami seluk beluk teknologi, serta memiliki kompetensi dan kapasitas yang berkontribusi pada pengembangan teknologi di negara mereka.

Namun, Norwegia yang sebagian besar jaringannya memakai peralatan Huawei tengah berpikir keras untuk mengurangi risiko. Kementerian Transportasi dan Komunikasi Norwegia telah mengisyaratkan bahwa tidak ada kerja sama keamanan dengan Tiongkok dalam hal pengembangan teknologi komunikasi.

Di lain hal, Menteri Pertahanan Inggris Gavis Williamson justru menaruh perhatian besar terhadap peranan Huawei yang menyediakan jaringan 5G di Inggris.

Di sisi lain, Badan Keamanan Siber Ceko mengungkapkan regulasi Tiongkok yang memaksa perusahaan swasta yang berkantor pusat di 'Negeri Tirai Bambu' itu bekerja sama dengan pihak intelijen.

Menurut lembaga itu, ketentuan tersebut menjadi ancaman jika terlibat dengan teknologi utama suatu negara. Majalah berita Der Spiegel melaporkan Jerman berada di bawah tekanan AS terkait dengan pemblokiran. (AFP/I-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya