Trump Dituding Sandera Warga AS

Denny Parsaulian Sinaga
10/1/2019 08:20
Trump Dituding Sandera Warga AS
((Photo by Nicholas Kamm / AFP))

PIDATO Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Selasa (8/1), yang ditayangkan saat jam tayang utama (prime time), tidak mampu memberikan harapan untuk solusi penutupan layanan pemerintah (shutdown) yang dimulai sejak 18 hari lalu.

Menurut sejumlah kalangan, penutupan layanan pemerintahan yang awalnya sebagai taktik negosiasi, kini telah berubah menjadi simbol politik Washington yang tidak bermanfaat. Bahkan, hal itu menimbulkan situasi yang menyakitkan bagi pegawai pemerintahan karena tidak mendapatkan gaji.

Pembayaran gaji mereka ditunda karena Trump menolak menandatangani tagihan pengeluaran pemerintah. Hal ini sebagai cara Trump menekan Partai Demokrat agar bersedia mendanai pembangunan tembok di perbatasan AS-Meksiko sepanjang 2.000 mil.

Nancy Pelosi, salah satu juru bicara di lembaga legislatif yang dikuasai Demokrat, menuduh Trump menyandera rakyat AS. Senada, Chuck Schumer, pemimpin Demokrat di Senat, menuding Trump memerintah dengan amarah dan menggunakan pegawai pemerintah untuk memperkuat pengaruh.

Sebelum pidato Trump ditayangkan, sempat muncul spekulasi bahwa Presiden AS itu berniat membuka jalan damai lewat pidatonya. Semisal, dengan menurunkan harga pembangunan tembok perbatasan AS-Meksiko atau menawarkan opsi fleksibilitas kepada Demokrat di bidang kebijakan imigrasi.

Akan tetapi, Trump tidak melakukan hal tersebut. Meski begitu, di sisi lain, pidato orang nomor satu AS itu dinilai melegakan karena Trump tidak mengumumkan keadaan darurat nasional. Jika itu dilakukan, secara teori akan memberikan hak kepada Trump untuk maju dan menggunakan anggaran dari pos militer.

Pemberlakuan keadaan darurat nasional juga akan memberikan kekuatan kepada Trump untuk mengotorisasi pelaksanaan proyek dinding perbatasan AS-Meksiko tanpa melalui persetujuan Kongres yang tentunya bakal memicu krisis politik yang lebih dalam.

Di lain hal, dalam menanggapi shutdown yang belum berakhir, politisi Demokrat dan sejumlah pentolan Partai Republik, telah memperingatkan bahwa kondisi tersebut akan menjadi eskalasi berbahaya dan akan bermuara di pengadilan.

Dinding baja

Sementara itu, saat berpidato di tayangan prime time, Trump mengungkapkan tuntutan dana senilai US$5,7 miliar untuk pembangunan dinding baja di sepanjang perbatasan Meksiko. Menurutnya, dinding baja itu akan menghentikan tumpahnya darah warga AS oleh para imigran ilegal.

Pidato yang berlangsung selama sembilan menit dari Kantor Oval di Gedung Putih tersebut, tidak meminta konsesi dari Demokrat yang sebelumnya telah menolak pendanaan tembok di perbatasan. Sebaliknya, Trump berkukuh proyek tersebut merupakan sebuah kebijakan domestik yang telah dia tandatangani.

Namun, hal yang dinanti khalayak dari pidato Trump tersebut tidak muncul, yaitu pernyataan yang memberikan harapan untuk mengakhiri penutupan sebagian layanan pemerintah yang telah menyebabkan 800 ribu karyawan federal bekerja tanpa dibayar.

Dengan suara tegas, Trump berbicara tentang kemungkinan untuk berharap memberikan landasan moral yang tinggi. Dia mengatakan ingin menjembatani kesenjangan politik yang bisa menjadi perebutan kekuasaan dari kursi kepresidenannya yang tengah bergejolak.

"Saya telah mengundang pimpinan Kongres ke Gedung Putih besok untuk menyelesaikan ini. Mudah-mudahan kita bisa naik ke level politik partisan untuk mendukung keamanan nasional," ujar Trump. (AFP/I-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya