Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DI lereng gunung yang menghadap wilayah perkotaan Hong Kong, Giovanni Lam sabar menunggu hebusan angin yang tepat untuk membawanya melambung tinggi.
Dia merupakan salah satu dari sekian banyak paralayang yang ingin melarikan diri dari kepadatan di wilayah bawah.
Kesabaran menjadi hal yang dipegang teguh paralayang. Seperti halnya Lam yang berprofesi sebagai dosen dan konsuler pemuda, membawa serta tiga pemula dan alat berat pada pendakian gunung selama 40 menit.
Tak jarang, saat musim dingin, kelompok paralayang harus menunggu selama dua jam untuk mendapatkan perubahan cuaca.
Begitu awan menyebar, tampak permadani hijau terhampar di bawah. Lam kemudian menginstruksikan agar Keith Yung, anak didik sekaligus tandemnya, berjalan melawan angin ketika dia menarik garis yang melekat pada kanopi di belakang mereka.
Dalam beberapa detik, tim paralayang itu terbang tertiup angin. "Hong Kong sangat padat dan selalu ada banyak orang sejauh mata memandang. Tetapi, begitu Anda berada di langit, rasanya bebas sekali. Seperti tidak ada batasan," ucap Lam.
Dengan sebagian besar kehidupan anak muda Hong Kong yang tinggal bersama orangtua di flat sempit, paralayang menjadi salah satu olahraga luar ruangan yang menawarkan kebebasan dari kepungan hutan beton.
Lam berharap aktivitas olahraga seperti ini akan membantu anak didiknya mendapatkan perspektif berbeda mengenai tinggal di wilayah padat penduduk. Begitu kaki mereka kembali menapak, pemula Yung yang berasa 22 tahun tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya.
"Pemandangannya sungguh berbeda dari apa yang kita lihat di bawah, atau bahkan saat mendaki puncak gunung. Ini seperti melompat ke dunia baru," tukas Yung dengan wajah berseri-seri.
Hong Kong memang terkenal dengan hutan beton pencakar langit dan blok hunian yang padat. Namun, pegunungan curam yang mengelilingi wilayah Tiongkok selatan menghadirkan banyak jalur pendakian dan peluang beraktivitas di luar ruangan.
Olahraga paralayang kini semakin menarik perhatian khalayak ramai. Beberapa tahun lalu, hanya sedikit yang menggelutinya. Tapi hari ini, tercatat sekitar 200 anggota paralayang aktif.
Sebelumnya, Lam pertama kali mencoba paralayang di Bali. Dia pun pernah melompat dari berbagai lereng gunung di seluruh Asia.
Akan tetapi, destinasi favoritnya masih di Hong Kong. Lam bahkan memberikan 'bintang lima' mengingat adanya tantangan cuaca tropis yang cepat berubah. Belum lagi pendaratan yang relatif sempit, sehingga menambah tingkat kesulitan.
Olahraga paralayang memang dibayangi bahaya. Juli lalu, paralayang Hong Kong yang berpengalaman sekaligus rekan Lam, Patrick Chung Yuk-Wa, gagal mendarat imbas perubahan cuaca saat angin topan mendekat.
Dengan kondisi cuaca yang tidak stabil, tim penyelamat membutuhkan waktu lima hari untuk menemukan Chung.
Meski begitu, paralayang di Hong Kong kian digemari. Di sana kini terdapat delapan area terbang yang sesuai dengan kebutuhan paralayang.
Namun, pelaku olahraga itu tengah khawatir akan maraknya pertumbuhan pembangunan di area hijau kota. Melayang Tinggi Menjemput Kebebasan
DI lereng gunung yang menghadap wilayah perkotaan Hong Kong, Giovanni Lam sabar menunggu hebusan angin yang tepat untuk membawanya melambung tinggi.
Dia merupakan salah satu dari sekian banyak paralayang yang ingin melarikan diri dari kepadatan di wilayah bawah.
Kesabaran menjadi hal yang dipegang teguh paralayang. Seperti halnya Lam yang berprofesi sebagai dosen dan konsuler pemuda, membawa serta tiga pemula dan alat berat pada pendakian gunung selama 40 menit.
Tak jarang, saat musim dingin, kelompok paralayang harus menunggu selama dua jam untuk mendapatkan perubahan cuaca.
Begitu awan menyebar, tampak permadani hijau terhampar di bawah. Lam kemudian menginstruksikan agar Keith Yung, anak didik sekaligus tandemnya, berjalan melawan angin ketika dia menarik garis yang melekat pada kanopi di belakang mereka.
Dalam beberapa detik, tim paralayang itu terbang tertiup angin. "Hong Kong sangat padat dan selalu ada banyak orang sejauh mata memandang. Tetapi, begitu Anda berada di langit, rasanya bebas sekali. Seperti tidak ada batasan," ucap Lam.
Dengan sebagian besar kehidupan anak muda Hong Kong yang tinggal bersama orangtua di flat sempit, paralayang menjadi salah satu olahraga luar ruangan yang menawarkan kebebasan dari kepungan hutan beton.
Lam berharap aktivitas olahraga seperti ini akan membantu anak didiknya mendapatkan perspektif berbeda mengenai tinggal di wilayah padat penduduk. Begitu kaki mereka kembali menapak, pemula Yung yang berasa 22 tahun tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya.
"Pemandangannya sungguh berbeda dari apa yang kita lihat di bawah, atau bahkan saat mendaki puncak gunung. Ini seperti melompat ke dunia baru," tukas Yung dengan wajah berseri-seri.
Hong Kong memang terkenal dengan hutan beton pencakar langit dan blok hunian yang padat. Namun, pegunungan curam yang mengelilingi wilayah Tiongkok selatan menghadirkan banyak jalur pendakian dan peluang beraktivitas di luar ruangan.
Olahraga paralayang kini semakin menarik perhatian khalayak ramai. Beberapa tahun lalu, hanya sedikit yang menggelutinya. Tapi hari ini, tercatat sekitar 200 anggota paralayang aktif.
Sebelumnya, Lam pertama kali mencoba paralayang di Bali. Dia pun pernah melompat dari berbagai lereng gunung di seluruh Asia.
Akan tetapi, destinasi favoritnya masih di Hong Kong. Lam bahkan memberikan 'bintang lima' mengingat adanya tantangan cuaca tropis yang cepat berubah. Belum lagi pendaratan yang relatif sempit, sehingga menambah tingkat kesulitan.
Olahraga paralayang memang dibayangi bahaya. Juli lalu, paralayang Hong Kong yang berpengalaman sekaligus rekan Lam, Patrick Chung Yuk-Wa, gagal mendarat imbas perubahan cuaca saat angin topan mendekat.
Dengan kondisi cuaca yang tidak stabil, tim penyelamat membutuhkan waktu lima hari untuk menemukan Chung.
Meski begitu, paralayang di Hong Kong kian digemari. Di sana kini terdapat delapan area terbang yang sesuai dengan kebutuhan paralayang.
Namun, pelaku olahraga itu tengah khawatir akan maraknya pertumbuhan pembangunan di area hijau kota.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved