Upaya Suaka Kandas di Thailand

Tesa Oktiani Surbakti
08/1/2019 06:00
Upaya Suaka Kandas di Thailand
( (Photo by - / Thai Immigration Bureau / AFP))

SEORANG perempuan asal Arab Saudi ditahan di Bandara Bangkok, Thailand, pada Senin (6/1).

Pihak berwenang setempat menyatakan perempuan bernama Rahaf Mohammed al-Qunun itu akan dideportasi setelah mendesak mengajukan permohonan untuk suaka.

Peristiwa itu terjadi di tengah pengawasan ketat pemerintah Arab Saudi atas penyelidikan kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi tahun lalu. Kematian Khashoggi memantik kecaman internasional terhadap catatan pelanggaran hak asasi manusia di lingkup kerajaan.

Kepada AFP, Qunun mengungkapkan keputusannya melarikan diri akibat pelecehan fisik dan tekanan psikologis yang dialaminya. Dia kabur saat bepergian bersama keluarganya di Kuwait.

Perempuan berusia 18 tahun itu juga mengatakan dirinya berencana pergi ke Australia untuk mencari suaka. Pasalnya, dia khawatir akan dibunuh jika dipulangkan petugas Imigrasi Thailand yang menghentikan perjalanannya saat transit.

Dalam menanggapi hal itu, Kepala Imigrasi Thailand, Surachate Hakparn, menjelaskan Qunun saat ini tengah menanti jadwal kepulangan. "Petugas imigrasi kami dan pejabat Kedutaan Arab Saudi akan bersamanya. Dia sendiri yang membeli tiketnya. Sekarang dia sedang menunggu jadwal penerbangan ke Arab Saudi," paparnya.

Saat disinggung mengenai upaya Qunun mencari suaka, Hakparn mengaku tidak tahu pasti. Namun, apabila Qunun ingin mencari suaka, dia harus menunggu jawaban dari negara-negara tujuan.

Sebelumnya, perempuan berusia 18 tahun itu menuturkan, dirinya dihentikan pejabat Arab Saudi dan Kuwait ketika tiba di Bandara Suvarnabhumi, Thailand. Dokumen perjalanannya diambil secara paksa.

Keterangan Qunun mendapat dukungan dari kelompok Human Rights Watch. "Saya minta pemerintah Thailand untuk menghentikan deportasi ke Kuwait. Saya minta polisi di Thailand agar memulai proses suaka," kata Qunun.

Dukungan publik

Sementara itu, sesaat sebelum jadwal keberangkatan, Qunun sempat mengunggah pembelaan dari publik di ruang tunggu bandara di Bangkok yang memprotes deportasinya. "Tolong, aku membutuhkan dukungan kalian. Aku memohon pertolongan kemanusiaan," tulisnya.

Seakan menunjukkan rasa putus atas, Qunun mengunggah video yang memperlihatkan upayanya membarikade pintu kamar hotel dengan perabotan. Lebih lanjut dia menekankan, jika dipulangkan ke negaranya, kemungkinan besar dia akan dipenjara. Qunun bahkan meyakini 100% bahwa keluarganya akan membunuhnya.

Di lain hal, pejabat senior Imigrasi Thailand menyatakan, Qunun ditolak masuk ke 'Negeri Gajah Putih' lantaran tidak memiliki dokumen lebih lanjut, seperti tiket pulang atau uang. Karena itu, pemerintah Thailand lantas menghubungi Kedutaan Arab Saudi untuk berkoordinasi.

Namun, menurut Phil Robertson dari Human Rights Watch, Qunun sedang menghadapi bahaya besar bila dipaksa kembali ke Arab Saudi. Semestinya, kata Robertson, pemerintah Thailand mengizinkan dia menemui Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) agar bisa mengajukan permohonan suaka.

"Kekhawatiran Qunun bahwa dia bisa dibunuh jika kembali, tidak boleh diabaikan," tegas Robertson.

Di sisi lain, UNHCR menyatakan pencari suaka tidak dapat dikembalikan ke negara asal apabila merasa nyawanya terancam. (AFP/BBC/I-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya