KUNJUNGAN Presiden RI Joko Widodo ke dua negara raksasa ekonomi di Asia, yakni Tiongkok dan Jepang, pekan lalu, tidak hanya memperkuat hubungan bilateral yang telah terjalin, tetapi juga membawa harapan baik bagi kemajuan dunia investasi dan bisnis di Tanah Air.
Dalam pertemuannya dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe, Presiden Jokowi menegaskan sudah saatnya Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi produkproduk mancanegara.
Dia meminta Beijing dan Tokyo berinvestasi dengan orientasi ekspor sehingga Indonesia tidak hanya menjadi pasar ekonomi.
Seperti diutarakan Presiden Jokowi kepada South China Morning Post, sudah waktunya bagi Indonesia dan Tiongkok menjalin kerja sama bilateral yang lebih serius di bidang perdagangan, investasi, dan infrastruktur.
Dia menggarisbawahi proyek-proyek besar seperti tol laut, kereta api, pembangkit listrik, dan pembangunan pelabuhan terbuka bagi investor Tiongkok, badan usaha milik pemerintah, dan perusahaan swasta.
"Kita ingin fokus di bidang pembangunan infrastruktur dan manufaktur. Kita bisa belajar dari Tiongkok, membangun tol laut dengan cepat, jalur kereta api dan kereta dengan cepat," ujar Jokowi kepada media Tiongkok itu.
Peran asing Upaya Jakarta merangkul Beijing agar mengambil peran besar dalam dunia investasi Indonesia bukan tanpa alasan.
Seperti halnya Tiongkok, Indonesia juga sedang menikmati pertumbuhan ekonomi yang baik di antara negara-negara sekawasan dan global.
Menurut Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Suryo Bambang Sulisto, ekonomi Indonesia merupakan yang terbesar di Asia Tenggara atau di antara negara-negara ASEAN.
"Namun, untuk merealisasikan sejumlah proyek besar tadi, Indonesia sangat membutuhkan peran investasi asing karena kita tidak bisa membiayai sendiri," ungkapnya kepada Media indonesia di selasela seminar yang diadakan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) di Jakarta, kemarin.
South China Morning Post menyebut, Indonesia saat ini setidaknya membutuhkan investasi asing sebesar US$7 miliar untuk membangun pelabuhan-pelabuhan.
Mendekati Tiongkok bukan tanpa dasar.
Jokowi terkesan dengan pesatnya akselerasi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang diraih Beijing dalam beberapa dekade terakhir.
Selain itu, jika merujuk data Dana Moneter Internasional (IMF), untuk pertama kalinya selama lebih dari 140 tahun, Amerika Serikat (AS) tidak lagi menjadi negara dengan perekonomian terbesar di dunia karena posisi itu telah direbut `Negeri Panda'.
Menurut data IMF yang dirilis akhir tahun lalu itu, perekonomian Tiongkok mencapai US$17,6 triliun.
Itu berarti porsi ekonomi `Negeri Panda' akan mencapai 16,5% dari total perekonomian dunia.
Sementara itu, perekonomian `Negara Paman Sam' diprediksi sebesar US$17,4 triliun atau 16,3% dari total perekonomian global pada 2014. (BBC/I-1)