WARGA Negara Bagian Chuuk berjuang membersihkan jalan dari puing-puing setelah topan Maysak merusak infrastruktur negara kepulauan yang terletak di pasi k tengah itu.
Setidaknya lima orang tewas dalam bencana tersebut.
Pertanian hancur, pasokan air terkontaminasi, dan orang-orang terancam kelaparan, setelah supertyphoon menghantam Negara Federasi Mikronesia (FSM) selama tiga hari.
"Gubernur Johnson Elimo mengumumkan keadaan darurat (di Chuuk) karena kerusakan akibat topan Maysak yang menewaskan lima warga," kata Presiden FSM Manny Mori.
Dia tidak mengatakan lokasi korban tewas itu ditemukan. Namun, laporan mengatakan bahwa sekolah-sekolah, fasilitas kesehatan dan umum, juga rumah pribadi rusak parah.
"Beberapa kapal nelayan, kapal penumpang, dan kapal pembawa penyelam tenggelam," kata Mori.
Warga Chuuk, Hiroyuki Mori, mengatakan dia kini membersihkan jalan-jalan bersama warga.
Ia juga mengatakan banyak warga telah mengungsi ke tempat-tempat yang lebih aman.
"Ada puing-puing di manamana. Pohon jatuh di atas rumah kami. Semua rumah di kompleks saya rusak," kata warga Pulau Weno berusia 27 tahun itu.
Topan Maysak yang berkecepatan 260 kilometer per jam menghantam Chuuk pada Minggu (29/3) malam.
Maysak kemudian melintasi 607 pulau kecil dan kini bergerak menuju Filipina.
Stasiun cuaca Filipina mengatakan kekuatan Topan Maysak telah melemah. Kecepatan angin maksimum menurun hingga sekitar 190 kilometer per jam.
Pemerintah Filipina telah menyiagakan 120 ribu personel militer di utara menghadapi topan itu.