SETIAP hari, sekitar 300 truk datang ke sebuah pembangkit energi di tepian Kota Goteborg, Swedia.
Truk-truk itu bukannya hendak mengambil ataupun membuang sampah di sana, melainkan mengantar sampah yang memang digunakan sebagai bahan bakar.
Dari situlah ribuan rumah di sekitarnya memperoleh energi pemanas.
"Ya, satu-satunya bahan bakar yang kami gunakan memang hanya sampah," kata Christian Lowhagen, juru bicara Renova. Renova merupakan perusahaan energi milik pemerintah yang mengoperasikan pembangkit energi di situ.
Menurut data Avfall Sverige, asosiasi manajemen sampah nasional Swedia, di seluruh negara Skandinavia itu, 950 ribu rumah memperoleh energi pemanas yang bersumber dari sampah, yang dihasilkan pembangkit energi per distrik wilayah.
Dari sampah pula, 260 ribu rumah di Swedia memperoleh energi listrik.
Swedia, kata Adis Dzebo, pakar energi di Insitut Lingkungan Stockholm, memiliki jaringan terbaik pembangkit energi panas.
Pembangkit itu berupa oven-oven raksasa yang menggunakan beberapa jenis bahan bakar, terutama sampah, untuk menghasilkan panas.
Panas itu lantas dialir kan ke rumah-rumah penduduk lewat jaringan pipa dalam tanah.
"Sebaliknya, di banyak negara lain, infrastruktur listrik dan energi panas lebih mengandalkan gas atau bahan bakar fosil," terang Dzebo.
Warga Swedia termasuk yang sudah sangat baik dalam urusan daur ulang sampah.
Hampir separuh atau 47% sampah rumahan sudah didaur ulang dan 52% digunakan untuk pembangkit energi panas.
Jadi, hanya 1% sampah warga Swedia yang ditumpuk di tempat pembuangan.
Karena kekurangan ba han bakar untuk pembangkit.
Swedia harus mengimpor sampah.
Pada 2014, impor sampah Swedia mencapai 800 ribu ton, naik dari 550 ribu ton pada 2010.
Menurut perkiraan Avfall Sverige, Swedia bakal mengimpor 1,5 juta ton sampah tahun ini dan 2,3 juta ton pada 2020.