Anak Imigran Meninggal dalam Tahanan

(AFP/Tes/I-1)
27/12/2018 09:00
Anak Imigran Meninggal dalam Tahanan
( (Photo by Johan ORDONEZ / AFP))

SEORANG anak berusia 8 tahun asal Guatemala, meninggal dalam tahanan pemerintah New Mexico. Peristiwa itu diungkapkan pejabat Imigrasi Amerika Serikat, sekaligus menandai kematian kedua anak imigran dalam tahanan sepanjang bulan ini.

Kematian tersebut terjadi di tengah perselisihan mengenai keamanan perbatasan. Apalagi penutupan sebagian pemerintah AS diwarnai usulan Presiden AS, Donald Trump, terkait anggaran proyek din-ding perbatasan.

Kepabeanan dan Perlindungan Perbatasan AS menyatakan kematian bocah lelaki, Felipe Gomez Alonzo, menunjukkan tanda-tanda penyakit potensial. Dia bersama ayahnya sempat dibawa ke rumah sakit di Alamo-gordo, New Mexico. Bocah itu didagnosis menderita pilek dan demam, yang kemudian mendapat resep amoksisilin dan ibuprofen. Setelah diobservasi selama 90 menit, bocah itu diperbolehkan pulang. Akan tetapi, bocah lelaki itu dibawa kembali ke RS pada Senin malam waktu setempat, lantaran mengalami mual berlebihan. Tak lama, dia dinyatakan meninggal tengah malam.

Konsul Guatemala di Phoenix, Oscar Padilla, mendapat konfirmasi dari ayah sang bocah melalui sambungan telepon. Keduanya melakukan perjalanan dari Nenton, sebuah desa berjarak 450 km dari Kota Guatemala. Mereka berencana pergi ke Kota Johnson di Tennessee. Pihak konsul mengidentifikasi ayah sang bocah, bernama Agustin Gomez berusia 47 tahun.

Biasanya, CBP menahan para imigran ilegal tidak lebih dari beberapa hari, ketika mereka diketahui melintasi wilayah perbatasan. Para imigran kemudian diserahkan ke Penegakan Bea Cukai dan Imigrasi AS (ICE) untuk penahanan jangka panjang. Ketentuan agensi menyatakan imigran tidak boleh ditahan lebih dari 72 jam di fasilitas penahanan CBP. Mengingat, layanannya terbilang minim dibandingkan dengan pusat penahanan ICE.

Juru bicara CBP belum menanggapi pertanyaan mengenai pernyataan kementerian. Pihak rumah sakit, yakni Gerald Champion Regional Medical Center, juga enggan berkomentar merujuk adanya aturan privasi. Namun, pihak CBP berjanji melakukan penyelidikan independen dan menyeluruh terkait peristiwa tersebut.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya