Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DELEGASI Korea Selatan menyambangi Korea Utara untuk menghadiri seremoni peletakan batu pertama proyek pembangunan jalan dan jalur kereta api. Proyek infrastruktur tersebut melintasi Semenanjung Korea, meski pembicaraan denuklirisasi terhenti.
Sebuah kereta khusus membawa sekitar 100 delegasi Korea Selatan, termasuk jajaran pejabat dan 5 orang yang lahir di Korea Utara. Rombongan meninggalkan stasiun kereta api Seoul sejak Rabu (26/12) pagi, menuju wilayah perbatasan Korea Utara, yakni Kaesong. Jarak tempuh mencapai 2 jam.
Presiden Korea Selatan Moon Jae-in dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un sepakat mengadakan upacara akhir tahun ini. Pembicaraan itu mengemuka dalam pertemuan bilateral putaran ketiga di Pyongyang pada September lalu.
Di balik upacara proyek infrastruktur, terdapat kekhawatiran bahwa kereta api maupun material yang dibawa ke Korea Utara untuk keperluan upacara, dapat melanggar sanksi yang dijatuhkan kepada negara yang terkenal akan senjata nuklirnya. Akan tetapi, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) diketahui memberikan restu terhadap acara tersebut.
Korea Selatan menekankan seremoni itu belum tentu menjadi jaminan awal pengerjaan proyek yang menghubungkan sekaligus memodernisasi akses jalan dan jalur kereta api antara kedua Korea. Mengingat, secara teknis kedua negara tetap berkonflik lantaran Perang 1950-1953 tidak berakhir dengan perjanjian damai.
Juru bicara Kementerian Unifikasi Korea Selatan mengatakan upacara itu sebagai pernyataan komitmen terhadap sejumlah proyek infrastruktur. Realisasi pembangunan bergantung pada kemajuan denuklirisasi Korut dan situasi pemberlakuan sanksi.
Kedua belah pihak menyelesaikan inspeksi proyek jalan dan kereta api pada bulan ini. Korea Selatan menganggarkan US$620 ribu untuk menjalankan proyek kerja sama. Upacara berlangsung ketika Amerika Serikat (AS) berupaya meyakinkan Pyongyang menyerahkan senjata nuklirnya.
Sulit berkomitmen
Di lain sisi, para kritikus berpendapat Korea Utara sulit membuat komitmen konkret. Pun, negara tersebut dinilai tidak akan menyerahkan persenjataan nuklirnya. Apalagi, AS masih mempertahankan sanksi yang mengisolasi dan membuat Korea Utara bergejolak.
Pada Senin kemarin, Trump mengeluarkan cuitan yang menyatakan pihaknya menanti pertemuan puncak putaran kedua dengan Korea Utara. Washington optimistis pertemuan itu akan berlangsung awal tahun depan. Dia pun menjelaskan keniscayaan itu berangkat dari keterangan Perwakilan Khusus AS di Korea Utara, Stephen Biegun, yang belum lama menyelesaikan kunjungan kerja di Seoul.
Biegun mengatakan AS akan lebih lunak dalam menerapkan sanksi keseluruhan terhadap perjalanan warga AS ke negara totaliter. Terutama yang berkaitan dengan pekerja bantuan. Isyarat niat baik tersebut muncul di saat Trump berupaya merealisasikan pertemuan puncak putaran kedua.
Sebelumnya, Trump melarang sejumlah kelompok bantuan AS untuk beroperasi di Korea Utara. Hal itu merupakan upaya memaksimalkan tekanan pada Pyongyang, sekaligus memastikan keselamatan warga AS. (AFP/I-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved