Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DI sebuah danau tapal kuda, bagian tengah Sungai Yangtze, helaan napas salah satu hewan yang terancam punah di Tiongkok memecah keheningan. Dengan punggung hitamnya yang licin, lumba-lumba tanpa sirip berenang dengan lincahnya muncul ke permukaan.
Pencemaran lingkungan, praktik penangkapan ikan berlebihan, hingga padatnya lalu lintas logistik membuat keberadaannya semakin terancam.
Bahkan, ancaman yang mengintai lumba-lumba tanpa sirip sepeti duyung itu lebih parah jika dibandingkan dengan panda, simbol hewan konservasi di Tiongkok. Belum lagi keberadaan bendungan hidroelektrik, seiring melonjaknya kebutuhan energi, turut mengancam keanekaragaman hayati.
Pemerintah Tiongkok memperkirakan ada 1.012 duyung liar Yangtze pada 2017. Jumlahnya lebih sedikit ketimbang 1.800 panda raksasa yang tidak lagi terancam punah. Sepanjang 2006-2012, populasi duyung Yangtze menurun hampir setengahnya menjadi 1.040 ekor. Akan tetapi, laju penurunan mulai melambat yang mencerminkan gencarnya konservasi.
Upaya penyelamatan yang menjadi fokus peneliti ialah mengenalkan lumba-lumba tanpa sirip ke beberapa kawasan konservasi yang jauh dari sentuhan manusia. Di Cagar Alam Tianezhou, wilayah tengah Provinsi Hubei, terdapat danau tapal kuda yang terhubung dengan Sungai Yangtze. Pada 1990-an, tim peneliti mulai membawa sekitar 30-40 lumba-lumba tanpa sirip ke wilayah tersebut. Saat ini populasinya bertambah menjadi 80 ekor.
"Kami melihat hewan itu tidak hanya mampu bertahan hidup, tapi juga bereproduksi secara alami, dan berhasil dilakukan di Tianezhou. Sungguh menggembirakan," ujar Wang Ding, ahli mamalia laut dari Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok.
Para peneliti terus menggaungkan urgensi penghentian aktivitas penangkapan ikan secara masif ataupun kegiatan yang menghasilkan polusi, sekaligus membangkitkan kesadaran lingkungan di tengah masyarakat.
"Kampanye dan pengawasan publik jelas berperan penting," tegas Manajer Proyek Spesies World Wildlife Fund (WWF) Zhang Xingqiao.
Pejabat Tiongkok berharap kasus kepunahan baiji, salah satu mamalia air tawar yang hidup di Sungai Yangtze, tidak kembali terjadi. Spesies itu punah pada sekitar 2006 lalu, dan menjadi kemunduran besar dunia konservasi di Tiongkok. Padahal, eksistensi subspesies air tawar langka itu dianggap sebagai barometer alami kesehatan sungai terpenting di Tiongkok.
Kondisi Sungai Yangtze yang semakin memprihatinkan pun mendorong Presiden Tiongkok Xi Jinping mengambil tindakan khusus. Dia menginstruksikan seluruh pemangku kepentingan memprioritaskan upaya perlindungan sungai.
Perlahan, penduduk setempat menyadari perlunya aksi nyata untuk menyelamatkan spesies yang terancam punah. Seorang nelayan bernama Wang Hesong memilih berganti profesi menjadi petugas patroli di sekitar danau tapal kuda sepanjang 21 kilometer.
"Lihatlah ke sana, ada seorang ibu dan bayi (duyung Yangtze)," ucap Wang seraya menghentikan kapalnya saat melihat dua punggung licin menembus permukaan.
"Mereka muncul ke permukaan hanya beberapa detik untuk bernapas. Beruntung kami melihatnya setiap hari," ujarnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved