Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KIM Jong-un memegang sebuah pistol berasap di tangannya. Sorot matanya mengarah pada jasad Donald Trump yang tergeletak di atas karpet merah. Jasadnya berdampingan dengan kotak baja berisi dolar Amerika Serikat (AS).
Semakin dramatis, semboyan neon bersinar di belakang pemimpin Korea Utara, dengan tulisan "Pertunjukan harus terus berjalan!". Adegan ini merupakan bagian dari pameran seni instalasi di Seoul, Korea Utara. Bak satire, gambaran tragis seakan menyindir diplomasi mengenai Semenanjung Korea yang menjadi sebuah pertunjukkan politik besar di ranah gliobal.
Baca juga: Arab Saudi Perbaiki Cara Pemberian Bantuan
Sepotong karya seniman Korea Selatan bernama Lim Young-sun, menandai berakhirnya tahun angin puyuh yang menghantam semenanjung. Kim dan Trump sempat saling melempar ancaman perang, termasuk serangan pribadi antara satu dengan yang lain. Namun, badai perlahan mereda setelah pertemuan puncak pertama di Singapura pada Juni lalu.
Perang kata-kata yang penuh warna antara pemimpin negara miskin namun mempunyai senjata nuklir dan pemimpin negara adidaya terbesar di dunia, hingga terjadinya pertemuan bersejarah, mendominasi tajuk utama global sepanjang 2018.
"Saya hanya ingin menunjukkan realitas politik, bahwa kita hidup di dalamnya. Warga merasa gugup, cemas dan senang menyaksikan setiap gerakan mereka. Seolah-olah sedang menyaksikan film," cetus Lim kepada AFP.
Karya Lim menggambarkan satu set film, dengan Kim dan trump sebagai teman dan lawan atas motif uang. Amarah Kim tersulut kenaikan suku bunga yang begitu tajam. Dia kemudian menembak Trump sang kreditur, sampai mati.
"Kedua pemimpin merupakan master dari agenda politik. Mereka menggunakan retorika perseteruan yang menciptakan ketegangan. Hal itu memberikan keuntungan politik bagi mereka sendiri. Mereka terlihat kurang memiliki ketulusan," tukas Lim.
Pameran seni yang berlangsung selama sepekan, mampu menarik perhatian ribuan pengunjung. Instalasi dengan sentuhan metafora politik internasional, rencananya akan dipamerkan di luar Korea Selatan pada tahun depan. Sebagian pengunjung tampak terkejut melihat karya yang menampilkan perseteruan pemimpin Korea Utara-Amerika Serikat. Apalagi karya tersebut cenderung condong ke tetangganya.
"Komentar pengunjung sungguh beragam. Beberapa di antaranya menemui saya, sembari mengatakan seniman seperti saya akan membahayakan hubungan Korea Selatan dengan AS, dan juga keamanan nasional," papar Lim. Sementara itu, pendapat lainnya yang tampaknya tidak berpihak pada Trump, menilai karya tersebut memberikan pencerahan.
Baca juga: DPR Desak Pemerintah Tegas Bela Uighur
Salah satu pengunjung, Song Min-kyong, memandang karya seni yang dipamerkan khususnya ciptaan Lim, sebagai metafora yang mampu menyindir kepentingan politik berprofil tinggi. Dalam hal ini, mengkritisi masa depan kedua petinggi negara yang kemungkinan berbeda.
"Politisi seperti Trump, mungkin datang dan pergi di negara demokratis. Tetapi, Kim Jong-un merupakan diktator yang bisa berkuasa selamanya," ujar Min-kyong.(AFP/OL-6)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved