IATA Optimistis Prospek Industri Penerbangan di 2019 Masih Cerah

Antara
13/12/2018 11:10
IATA Optimistis Prospek Industri Penerbangan di 2019 Masih Cerah
(ANTARA FOTO/Sahrul Manda Tikupadang)

MESKIPUN pertumbuhan ekonomi global kemungkinan melambat, laba bersih industri penerbangan di seluruh dunia pada 2019 diperkirakan mencapai US$35,5 miliar, sedikit di atas perkiraan US$32,3 miliar pada 2018,  Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) memperkirakan pada Rabu (12/12).

Harga minyak yang lebih rendah dan pertumbuhan ekonomi global yang solid, meskipun lebih lambat, memperluas lompatan keuntungan bagi industri penerbangan global, setelah profitabilitasnya terimpit oleh kenaikan biaya-biaya pada 2018. Menurut IATA, pada 2019 akan menjadi tahun kesepuluh dari laba dan tahun kelima berturut-turut di mana maskapai penerbangan memberikan pengembalian modal yang melebihi biaya modal industri, menciptakan nilai bagi para investornya.

"Kami telah memperkirakan bahwa kenaikan biaya-biaya akan melemahkan profitabilitas pada 2019. Tetapi penurunan tajam dalam harga minyak dan proyeksi pertumbuhan PDB yang solid telah memberikan sebuah penyangga," kata Direktur Jenderal dan CEO IATA Alexandre de Juniac, yang optimistis dengan hati-hati bahwa lompatan penciptaan nilai yang solid untuk para investor akan berlanjut setidaknya selama satu tahun lagi.
    
Prospek industri tahun 2019 didasarkan pada harga minyak rata-rata yang diantisipasi sebesar US$65 per barel, lebih rendah dari US$73 yang dialami pada tahun 2018. Hal itu menyusul peningkatan produksi minyak dan peningkatan cadangan minyak AS. Menurut IATA, bahan bakar diperkirakan mencapai 24,2% dari biaya operasi rata-rata maskapai penerbangan.

 

Baca juga: Menlu Kanada Peringatkan AS tidak Politisasi Kasus Ekstradisi

 

Industri penerbangan di semua wilayah, kecuali Afrika, diperkirakan akan melaporkan keuntungan pada 2018 dan 2019, kata IATA. Sementara operator-operator di Amerika Utara terus memimpin pada kinerja keuangan, mencapai hampir setengah dari total keuntungan industri, operator-operator Asia-Pasifik, terutama beberapa operator biaya rendah baru, melihat pertumbuhan yang kuat karena pertumbuhan ekonomi regional yang kuat.

"Tetapi ada risiko-risiko penurunan karena lingkungan ekonomi dan politik tetap bergejolak," kata Alexandre, menambahkan bahwa industri penerbangan membutuhkan. 

Misalnya, lebih banyak kejelasan tentang bagaimana Brexit akan dilakukan jika pertumbuhan yang solid dan mantap akan tercapai.

Sementara itu, CEO IATA menyatakan keprihatinannya yang mendalam atas dampak pada industri oleh globalisasi yang kurang inklusif dan meningkatnya kebijakan proteksionis atau sengketa perdagangan atas dunia. 

"Kemakmuran akan datang dengan perbatasan yang terbuka untuk orang dan perdagangan. Itu adalah prasyarat bagi penerbangan untuk memberikan yang terbaik untuk pembangunan ekonomi dan sosial global," katanya.
    
Didirikan pada tahun 1945, IATA adalah asosiasi perdagangan dari 290 maskapai penerbangan dari 117 negara dan wilayah, mewakili sekitar 82% lalu lintas udara global. Berkantor pusat di Montreal, Kanada, dan dengan kantor di Jenewa, Swiss, mendukung kegiatan maskapai dan membantu merumuskan kebijakan dan standar-satandar industri. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dwi Tupani
Berita Lainnya