Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Ambisi Tiongkok untuk mendominasi pengembangan teknologi 5G tengah dihantam gelombang besar.
Pascapenangkapan petinggi Huawei Technologies, Meng Wanzhou, spekulasi terkait dengan perusahaan teknologi yang dipakai sebagai mata-mata aparat keamanan Tiongkok, kian meluas.
Teknologi komunikasi seluler generasi kelima merupakan tonggak revolusi digital masa depan. Standar tersebut menghadirkan konektivitas yang sangat cepat dengan kapasitas data besar.
Tiongkok begitu berambisi mengembangkan teknologi 5G untuk diadopsi dalam kecerdasan artifisial maupun pabrik otomatis.
Dengan diluncurkannya teknologi 5G, Tiongkok berharap dapat menciptakan kecepatan akses di atas standar hingga mengontrol aspek keamanan dan lalu lintas data yang saat menjadi arena persaingan besar antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.
Status Huawei sebagai salah satu pemasok utama sistem telekomunikasi global, khususnya di pasar negara berkembang, memberikan keuntungan bagi Tiongkok.
Akan tetapi, kalangan analis menilai terdapat kekhawatiran pasar global yang mengintai kepemimpinan Huawei.
"Ini ialah ancaman besar. Karena jika Huawei kehilangan akses ke pasar Barat yang selama ini menguntungkan, tentu akan berdampak negatif pada kemampuan pembiayaan dan pertumbuhan korporasi," urai pakar kebijakan teknologi global dari Eurasia Group, Paul Triolo.
Kasus Huawei, lanjut dia, juga menghambat penyebaran jaringan 5G di Tiongkok yang merupakan strategi utama 'Negeri Tirai Bambu' meningkatkan basis industri nasional mereka.
Di lain hal, para pemangku kepentingan pertahanan AS pun khawatir terhadap dominasi Tiongkok dalam infrastruktur 5G. Mereka menilai, hal itu berpotensi mengganggu komunikasi militer AS.
Atau, sebaliknya, mengobarkan perang asimetris dalam konfrontasi. Triolo juga mengingatkan dampak bencana yang menghantui Tiongkok.
Maksudnya, upaya penegakan hukum AS terkait dengan penangkapan Meng akan memicu larangan penjualan cip dari AS dan teknologi vital lainnya kepada Huawei.
"Kasus ini bisa mendatangkan bencana bagi ambisi Tiongkok dalam pengembangan teknologi mereka, termasuk mengancam bisnis Huawei itu sendiri," tukasnya.
Belakangan, Selandia Baru bergabung dengan Australia dan AS yang sebelumnya melarang penggunaan teknologi Huawei pada jaringan domestik mereka. Insiden penangkapan petinggi Huawei awal Desember lalu, turut menggulirkan sentimen serupa di Jepang dan Belgia.
Bahkan, menurut kantor berita Kyodo, kontrak pembelian peralatan Huawei oleh tiga perusahaan telekomunikasi raksasa Jepang, bakal dibatalkan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved