Kasus Penangkapan Petinggi Huawei Mengancam Ambisi Tiongkok

Tesa Oktiana Surbakti
11/12/2018 18:33
Kasus Penangkapan Petinggi Huawei Mengancam Ambisi Tiongkok
(AFP/Jason Redmond)

AMBISI Tiongkok untuk mendominasi pengembangan teknologi 5G dihantam gelombang besar. Pascaeksekutif Huawei ditangkap, spekulasi perusahaan teknologi menjadi mata-mata aparat keamanan Tiongkok semakin meluas.

Teknologi komunikasi seluler generasi kelima merupakan tonggak revolusi digital masa depan. Standar tersebut menghadirkan konektivitas yang sangat cepat dengan kapasitas data besar. Tiongkok begitu berambisi mengembangkan teknologi 5G untuk diadopsi dalam kececerdesaan artifisial maupun pabrik otomatis.

Baca juga: Misi Pencarian Lima Marinir AS Dihentikan

Dengan diluncurkannya teknologi 5G, Tiongkok berharap dapat menciptakan kecepatan akses di atas standar, hingga mengontrol aspek keamanan dan lalu lintas data, yang menjadi persaingan besar antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.

Status Huawei sebagai pemasok sistem telekomunikasi utama global, khususnya di pasar negara berkembang, memberikan keuntungan bagi Tiongkok. Akan tetapi, kalangan analis menilai terdapat kekhawatiran pasar global yang mengintai kepemimpinan Huawei.

"Ini adalah ancaman besar karena jika Huawei kehilangan akses ke pasar Barat yang selama ini menguntungan, tentu akan berdampak negarif pada kemampuan pembiayaan dan pertumbuhan korporasi," ujar pakar kebijakan teknologi global dari Eurasia Group, Paul Triolo.

Kasus Huawei, lanjut dia, juga menghambat penyebaran jaringan 5G di Tiongkok, yang merupakan strategi utama Tiongkok meningkatkan basis industri nasional. Eksosistem pertahanan AS pun mulai khawatir dominasi Tiongkok dalam infrastruktur 5G, berpotensi menganggu komunikasi militer AS. Atau sebaliknya, mengobarkan perang asimetris dalam konfrontasi.

Triolo juga mengingatkan dampak bencana yang menghantui Tiongkok, apabila upaya penegakan hukum AS terkait penangkapan eksekutif Huawei, Meng Wanzhou, di Kanada, menimbulkan larangan penjualan chip dari AS dan teknologi vital lainnya kepada Huawei.

"Kasus ini bisa mendatangkan bencana bagi ambisi Tiongkok dalam pengembangan teknologi, termasuk mengancam bisnis Huawei itu sendiri," tukasnya.

Belakangan, Selandia Baru bergabung dengan Australia dan AS yang sebelumnya melarang penggunaan teknologi Huawei pada jaringan domestik. Insiden penangkapan petinggi Huawei awal Desember lalu, turut menggulirkan sentimen serupa di Jepang dan Belgia.

Kantor berita Kyodo melaporkan rencana pembatalan kontrak pembelian peralatan Huawei dari tiga perusahaan telekomunikasi raksasa Jepang. Rencana pembatalan juga menyasar pemain besar Tiongkok lainnya, yakni ZTE.

Pejabat pemerintahan AS maupung anggota parlemen sudah lama menaruh kekhawatiran terhadap Tiongkok yang memanfaatkan perusahaan berbasis teknologi untuk mecuri data rahasia perdagangan. Namun, tuduhan tersebut sempat ditepis Menteri Luar Negeri Tiongkok, Lu Kang. "Mereka tidak pernah memberikan bukti apapun yang menunjukkan Huawei telah mengancam sistem keamanan nasional di negaranya," ucap Lu menegaskan.

Langkah Negeri Paman Sam menghadang masuknya teknologi ZTE, mendorong korporasi dalam lubang kebangkrutan awal 2018. Terlebih, pemerintahan AS di bawah kepemimpinan Donald Trump mengeluarkan larangan temporer bagi perusahaan AS yang menjual komponen vital kepada pengembang teknologi asal Tiongkok.

Sejauh ini, Huawei memang memperoleh banyak paten 5G terkemuka. Berikut, menyediakan peralatan jaringan untuk sistem telekomunikasi global yang disinyalir menyertakan sejumlah data AS. Hal itu lah yang menjadi potensi risiko.

Baca juga: Ragam Reaksi Rompi Kuning atas Pidato Macron

"Salah satu ancaman terbesar bisa dianalogikan seseorang yang membangun rumah Anda, kemudian memutuskan untuk merampasnya. Dia sudah tata letak, sumber energi, jalur akses, dan di mana Anda menyimpan kunci," tutur pakar kebijkana teknologi dari Center for Strategic and Internastional Studies, James Lewis.

Apabila AS benar-benar merealisasikan rencana penghentian pasokan chip, maka Huawei akan mengalami pukulan besar. Lebih parah dari dampak terhadap ZTE. "Jika Huawei terguncang, Tiongkok akan kehilangan keunggulan dalam teknologi 5G," kata pengamat hubungan AS-Tiongkok dari Renmin University, Shi Yinhong. Dia berpendapat sikal global Presisen Tiongkok Xi Jinping yang keras, akan memperburuk persoalan Huawei. (AFP/OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya