Indonesia-Australia Agendakan Kerja Sama Lingkungan Hidup

Indrastuti
10/12/2018 20:50
Indonesia-Australia Agendakan Kerja Sama Lingkungan Hidup
(MI/MOHAMAD IRFAN )

INDONESIA dan Australia sepakat mengaktifkan kembali Working Group Indonesia-Australia dalam bidang lingkungan hidup dan saling mendukung pelaksanaan National Determined Contribution (NDC) masing-masing negara.

Demikian hasil pertemuan bilateral Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLH) Siti Nurbaya dengan Menteri Lingkungan Australia Melissa Price di Sekretaria Delegasi Indonesia (Delri) di sela acara Konferensi Iklim PBB COP 24 di Katowice, Polandia (10/12).

"Kita mendapatkan dukungan dari Australia terkait perubahan iklim dalam INCAS atau Indonesia National Carbon Accounting System. Australia juga mendukung kita dalam pengembangan instrumen untuk mengukur, melaporkan, dan verifikasi. Hal ini penting dalam penghitungan emisi karbon," jelas Siti.

Selain itu, papar Siti, Indonesia dan Australia sepakat mengagendakan kerja sama dalam hal peatland, mangrove, serta sampah plastik laut. Pelaksanaan kesepakat masih menunggu kejelasan teknis implementasi. Kerja sama ini merupakan lanjutan dari kesuksesan kedua negera menjadi tuan rumah dalam Asia Pacific Rainforest Summit (APRS) .

"Saya juga berterima kasih pada pihak Australia atas dukungannya dalam COP 24 ini. Kita harap negoisasi yang relatif berat pada minggu lalu dapat diselesaikan karena tidak ada sesuatu yang memberatkan dalam draf negoisasi. Kita optimistis bisa kita lanjutkan," kata Siti.

Ia menambahkan, penanganan sampah laut Indonesia dilakukan berdasarkan land based activities. Indonesia mengusulkan penetapan Regional City Initiative Center for Marine Polution and Control Based Activity di Indonesia.

Indonesia dan Australia juga saling mendukung pelaksanaan NDC masing-masing negara. NDC Australia adalah 26-27% sedangkan Indonesia 29-41%, 17% dari tahun ini berasal dari sektor kehutanan. Kerja sama bidang blue carbon, peatland, dan mangrove yang tingkat emisinya tinggi akan bagus bagi kedua negara.

Sementara itu, Melissa Pice menyambut baik kerja sama kedua negara di bidang lingkungan, terutama kehutanan. Selamat kepada Indonesia yang mendapat hasil bagus dalam kehutanan.

"Dalam lingkup yang lebih luas, dalam hal isu blue carbon dan sampah plastik laut juga tebuka luas kerja sama karena Indonesia dan Australia sama-sama memiliki kepedulian yang mendalam terhadap hal tersebut," papar Melissa.

Kepala Badan Litbang dan Inonvasi KLHK sekaligus Ketua Paviliun Indonesia, Agus Justianto, menambahkan, kerja sama dalam bidang litbang sistem penghitungan karbon telah berjalan dan sudah diterapkan.

"Mendekati tahun 2020 kita harus dapat meyakinkan semua pihak bahwa penghitungan ini dilakukan dengan cara yang advanced dan kredibel," jelas Agus.

Agus menjelaskan, proyek INCAS sangat membantu dalam penghitungan karbon di seluruh Indonesia. Sistem ini sudah dapat diaplikasikan untuk berbagai sektor, di antaranya yang berbasis darat yang menjadi sektor utama untuk pengurangan emisi, serta sektor energi dan transportasi. (OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya