Pembatasan Minyak OPEC Hadapi Tantangan

(AFP/Tes/I-1)
08/12/2018 04:40
Pembatasan Minyak OPEC Hadapi Tantangan
((Photo by JOE KLAMAR / AFP))

ORGANISASI Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) akan menemui 10 negara mitra termasuk Rusia, untuk mencapai kesepakatan mengenai pemangkasan produksi minyak bumi. Sebab, anggota kelompok eksportir tersebut gagal mencapai kesepakatan.

Awalnya, kartel minyak diprediksi akan menandatangani kesepakatan pemotongan produksi guna membendung penurunan harga minyak dunia. Namun, harapan itu tidak terwujud pada pertemuan Kamis waktu setempat.

"Saya dalam posisi tidak percaya diri mengenai tercapainya kesepakatan," ujar Menteri Energi Arab Saudi Khalid Al-Falih seusai menjalani negosiasi panjang di markas besar OPEC, Wina, Austria.

Padahal, OPEC dan anggota non-OPEC yang menguasai separuh produksi minyak global, memiliki pandangan serupa bahwa anjloknya harga minyak dunia lebih dari 30% dalam waktu dua bulan terakhir dipengaruhi tingginya produksi. Akan tetapi, pemain utama di tengah lingkaran raksasa global seakan mencari alasan agar pihak lain yang bertindak.

Bagi Rusia yang memimpin negara-negara non-OPEC atau disebut aliansi OPEC+, berpendapat sulit untuk menahan produksi minyak seperti yang dilakukan negara lain, lantaran terdapat faktor berkaitan dengan iklim. Hal itu diutarakan Menteri Ener-gi Rusia Alexander Novak di Saint Petersburg.

Di lain sisi, Arab Saudi harus mempertimpangkan tekanan dari Amerika Serikat (AS). Setelah Presiden AS Donald Trump menuntut OPEC tidak menghasilkan keputusan yang berdampak pada kenaikan harga minyak. Pun, posisi diplomatik Arab Saudi dihadapkan situasi rumit pasca-terkuaknya kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi.

"Tetapi, kita tidak memerlukan izin dari siapa pun untuk memotong produksi minyak," cetus Al-Falih kembali menegaskan. Pemerintah Arab Saudi memangkas produksi minyak sebesar 1 juta barel, atau lebih rendah daripada ekspektasi pasar.

Iran yang merupakan rival geopolitik Arab Saudi, sekaligus produsen terbesar ketiga di OPEC, menyarankan pemotongan produksi minyak lebih dalam. Negara itu juga mendesak pembebasan sanksi dari AS yang menargetkan sektor energi nasional.

Pertemuan Jumat waktu setempat, tampaknya juga harus memerhatikan keraguan yang digulirkan Venezuela dan Libia. Selain itu, jumlah dan periode pemotongan produksi yang diusulkan Rusia, bisa menjadi titik kunci yang menentukan. Menteri Energi Irak Thamir Abbas Al Ghadh-ban mengatakan pihaknya berharap pembicaraan menghasilkan kesepakatan.

Sementara itu, harga mi-nyak Brent berada di bawah level US$60 per barel, imbas pemotongan produksi minyak Arab Saudi.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya