Qatar Hengkang Dari OPEC

Tesa Oktiana Surbakti
03/12/2018 18:56
Qatar Hengkang Dari OPEC
( (Photo by Anne LEVASSEUR / AFP))

QATAR memutuskan hengkang dari lingkaran Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC). Hal itu diumumkan langsung oleh Menteri Energi Qatar Saad Sherida al-Kaabi pada Senin (3/12).

Keputusan untuk keluar dari blok yang mencakup 15 negara penghasil minyak bumi terbesar itu, turut dikonfirmasi Qatar Petroleum, perusahaan minyak negara tersebut.

Dalam konferensi pers di Doha, al-Kaabi menjelaskan latar belakang Qatar menarik diri dari OPEC dilandasi keinginan untuk fokus terhadap upaya pengembangan dan peningkatan produksi gas alam. "Kami ingin menaikkan produksi dari 77 juta ton menjadi 110 juta ton setiap tahunnya," jelas al-Kaabi.

Keluarnya Qatar menorehkan sejarah baru, sebagai negara Teluk pertama yang meninggalkan blok penghasil minyak terbesar. Qatar bergabung dengan OPEC pada 1961, satu tahun setelah pendirian organisasi.

Baca juga: Redam Krisis, Pemerintah Perancis Temui Perwakilan Partai

Charlotte Bellis, koresponden Al-Jazeera, mengatakan keputusan Qatar muncul beberapa hari menjelang pertemuan OPEC pada 6 Desember mendatang.

"Mereka mengatakan ini tidak ada hubungannya dengan blokade di Qatar. Mereka sudah memikirkannya dalam beberapa bulan terakhir," ucap Bellis, merujuk pada blokade diplomatik di Qatar yang digulirkan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir dan Bahrain. Lebih lanjut, Bellis mengungkapkan pandangan Qatar yang memutuskan segera hengkang dari OPEC sebelum akhir tahun.

"Mereka mengatakan ingin melakukan ini sekarang juga. Agar semua menjadi transparan jelang pertemuan OPEC," imbuh Bellis.

Tercatat sejak 2013, volume produksi minyak Qatar terus mengalami penurunan. Dari 728 ribu barel per hari (bph) per 2013, menjadi sekitar 607 ribu bph per 2017. Sementara itu, total produksi termasuk gas bumi, meningkat pada periode yang sama, yakni dari 30,7 juta bph menjadi 32,4 juta bph.

Awal pekan ini, OPEC dan Rusia, yang menghasilkan sekitar 40% dari total produksi minyak dunia, sepakat untuk memangkas produksi minyak baru. Tujuannya, mengantisipasi penurunan harga minyak dunia dalam beberapa bulan mendatang. Pada Oktober ini, harga minyak dunia sempat mencapai level tertinggi dalam empat tahun terakhir, yakni US$ 86 per barel. Namun sejak itu, harga minyak dunia anjlok di level US$ 60 per barel.

Bagaimanapun, Qatar merupakan pemasok gas alam cair (LNG) terbesar, yang menghasilkan hampir 30% dari total produksi gobal. Al-Kaabi menekankan deklarasi keluarnya Qatar dari OPEC, murni keputusan bisnis.

Baca juga: Trump Klaim Tiongkok Segera Pangkas Tarif Impor Mobil

"Al-Kaabi berpendapat Qatar adalah pemain kecil di OPEC. Sehingga, tidak masuk akal bagi mereka untuk fokus pada hal yang bukan menjadi kekuatannya. Gas dalam hal ini adalah kekuatan mereka, sehingga keputusan itu keluar," papar Bellis menirukan perspektif Al-Kaabi.

Pemerintah Qatar, sebagaimana diutarakan al-Kaabi, memandang langkah menarik diri dari OPEC, sebagai strategi pengembangan gas alam di masa depan, baik dari sisi pertumbuhan produksi, kegiatan, hingga ekspansi di dalam maupun luar negeri. Pada September lalu, Qatar mengumumkan proyeksi peningkatan produksi gas alam dengan menambah lini produksi keempat. Termasuk meningkatkan produksi dari Lapangan Gas Utara, menjadi 110 juta ton per tahun.(Aljazeera/OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya