Alarm Perubahan Iklim Menggema di KTT Polandia

AFP/Tes/I-1
03/12/2018 00:30
Alarm Perubahan Iklim Menggema di KTT Polandia
(AFP)

BUNYI alarm dampak perubahan iklim terhadap lingkungan semakin menggema. Suara peringatan mewarnai pertemuan perwakilan dari hampir 200 negara di Polandia, pada Minggu waktu setempat, untuk memperkuat upaya pencegahan bencana alam imbas perubahan iklim.

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai iklim, memiliki peran krusial sebagaimana respons manusia terhadap pemanasan global.

Negara dengan perekonomian berskala kecillah yang mayoritas menanggung beban sehingga negara-negara kaya harus berkontribusi untuk mengimplementasikan komitmen dalam Perjanjian Paris 2015.

Sekitar tiga tahun lalu di Paris, sejumlah negara berkomitmen dalam hal pembatasan suhu global jauh di bawah 2 derajat celsius dan mendorong ke batas 1,5 derajat celsius jika dimungkinkan.

Akan tetapi, dengan pemanasan 1 derajat celsius sejauh ini, dunia telah melihat dahsyatnya dampak yang ditimbulkan, mulai kebakaran hutan mematikan, gelombang panas dan terjangan badai yang diiringi naiknya permukaan air laut.

Dirut Institut Postdam untuk Penelitian Dampak Iklim, Johan Rockstrom, mengatakan pembicaraan di Katowice, Polandia, sangat penting dalam implementasi pemajuan janji-janji Perjanjian Paris.

"Para delegasi dalam pembicaraan COP24 tidak akan fokus membahas apakah pemerintah di seluruh dunia mencapai target pengurangan emisi gas rumah kaca dengan cepat, tetapi bagaimana mereka dapat melakukannya," tutur Rockstorm.

Di Katowice, ratusan negara harus menyepakati buku aturan sesuai dengan tatanan global, yakni bagi 183 negara yang meratifikasi kesepakatan Paris. Bagaimanapun, masih ada yang mengganjal dengan keputusan Presiden AS Donald Trump membatalkan komitmen dari kesepakatan itu.

"(Pertemuan) Katowice mungkin menunjukkan kepada kita, sejauh mana efek domino dari penarikan AS," tukas CEO European Climate Foundation, Laurence Tubiana.

Peringatan perubahan iklim yang harus diwaspadai ialah kenaikan permukaan air laut global, hingga kegagalan panen massal yang kemungkinan besar akan dialami negara maju di masa depan.

"Kegagalan untuk bertindak sekarang, sangat berisiko membawa kita melampaui titik tanpa harapan, dengan konsekuensi bencana alam yang merusak kehidupan," pungkas Amjad Abdulla, Ketua Negosiator untuk Aliansi Negara Pulau Kecil.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya