Protes terhadap Kepemimpinan Macron makin Meluas

AFP/Tes/I-1
03/12/2018 00:10
Protes terhadap Kepemimpinan Macron makin Meluas
(AFP)

SEJUMLAH pengunjuk rasa antipemerintah Prancis di bawah kepemimpinan Emmanuel Macron membakar puluhan mobil berikut bangunan pertokoan. Bentrokan yang terjadi di pusat Kota Paris, Sabtu waktu setempat, mencuat di tengah gerakan ribuan orang bertajuk 'rompi kuning' yang memprotes kebijakan penaikan pajak bahan bakar.

Petugas keamanan langsung meredakan kerusuhan dengan semburan gas air mata. Sebelumnya, para demostran melemparkan batu dan proyektil lainnya yang mengenai petugas keamanan sebagai bentuk protes luas terhadap Presiden Prancis.

Asap tebal menyelimuti beberapa distrik perbelanjaan ketika aksi kekerasan meluas dari Arc de Triomphe, yang menjadi pusat berkumpul sebelum berbaris menuju Champs-Elysees. Setelah pemeriksaan kartu identitas, sebagian pengunjuk rasa diperbolehkan turun ke jalan, sedangkan yang lainnya mulai melawan barikade petugas kepolisian.

"Mereka yang bertanggung jawab atas kerusuhan ini tidak menginginkan adanya perubahan atau perbaikan. Sebaliknya, mereka menginginkan kekacauan. Tidak ada alasan pembenaran atas penyerangan terhadap petugas berwenang, penjarahan pertokoan, dan mengganggu masyarakat sekitar," ucap Macron di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 di Buenos Aires, Argentina.

Pihak berwenang menyatakan 270 orang telah diamankan dari aksi kerusuhan massal itu. Korban luka-luka mencapai 110 orang, termasuk 17 petugas kepolisian dari total 5.000 personel yang dikerahkan untuk memobilisasi aksi protes. Titik kebakaran yang berhasil dipadamkan mencapai 190 lokasi.

Kemendagri Perancis mengungkapkan aksi protes dihadiri sekitar 75 ribu demontran. Jumlah itu memang berkurang dari protes pertama pada 17 November, yang mampu menarik 282 ribu demonstran.

Menteri Dalam Negeri Christophe Castaner mengaitkan kekerasan itu dengan agenda menabur konflik yang menargetkan kehancuran. Kendati demikian, dia memastikan situasi sudah terkendali.

"Kami ialah gerakan damai, tetapi kami tidak terorganisasi. Memang itu sebuah kekacauan karena kami tidak memiliki pemimpin. Selalu ada beberapa idiot yang datang untuk bertarung. Namun, mereka tidak mewakili suara kami," cetus Dan Lodi, pensiunan yang mengikuti gerakan protes di Champs-Elysees.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya