AS Tolak Dukung Aksi Global Perubahan Iklim

Tesa Oktiana Surbakti
02/12/2018 23:50
AS Tolak Dukung Aksi Global Perubahan Iklim
(AFP)

KETEGANGAN atas perubahan iklim menandai berakhirnya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 di Buenos Aires, Argentina, pada Sabtu waktu setempat. Ditambah dengan Amerika Serikat (AS) yang mengambil sikap berbeda.

Setelah melakukan rapat pleno dan sesi intervensi pada 30 November-1 Desember, 19 kepala negara dan satu pemimpin Uni Eropa sepakat mendeklarasikan 31 butir kesepakatan yang sesuai dengan tema KTT G-20 tahun ini, yaitu Membangun konsensus pada keadilan dan pembangunan berkelanjutan.

Dalam sebuah komunike atau pengumuman resmi yang mengacu pada KTT G-20 di Argentina, menyatakan semua anggota G-20 sepakat untuk menerapkan Perjanjian Paris 'yang tidak dapat diubah' tentang perubahan iklim. Namun, terdapat sebuah paragraf yang menegaskan kembali keputusan AS menarik diri dari Perjanjian Paris.

Presiden Argentina Mauricio Macri mengatakan tanggung jawab pihaknya sebagai tuan rumah G-20 ialah mencapai konsensus. "Koordinasi dan kesepakatan yang dicapai sangat baik mengingat besarnya tekanan global saat ini," katanya dalam pidato penutupan G-20 di Costa Salguero Center, Sabtu (1/11).

Macri menyimpulkan beberapa poin penting yang tertera pada hasil deklarasi para pemimpin G-20. Pertama, soal perdagangan. Dia menuturkan negara-negara meminta agar perdagangan bebas bisa dilakukan secara adil.

Kedua, kesepakatan bersama terkait dengan perubahan iklim. Menurutnya, Argentina setuju bahwa setiap negara harus meneruskan komitmen mereka untuk mendorong energi terbarukan di setiap sendi kehidupan. Ketiga, soal perubahan teknologi.

Terkait dengan perang dagang yang terjadi di antara Amerika Serikat dan Tiongkok, KTT G-20 menilai perdagangan dan investasi internasional merupakan mesin yang penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. "KTT G-20 mendukung reformasi WTO (World Trade Organization) agar dapat mengembangkan fungsinya secara maksimal. Kami akan mengkaji progres pada pertemuan selanjutnya di Jepang," ungkapnya.

 

Keberatan

Perseteruan terus terjadi meski tanda-tanda dampak perubahan iklim semakin nyata. Laporan yang dikeluarkan pemerintah AS pekan lalu, menyatakan pertumbuhan ekonomi nasional bisa tertekan hingga 10% pada akhir abad ini, tanpa adanya tindakan besar.

Thomas Bernes, anggota senior di Pusat Inovasi Tata Kelola Internasional di Kanada, sekaligus mantan perunding G-20, mengungkapkan adanya keberatan dari Turki dan Saudi yang berkontribusi untuk mempertahankan komunike akhir.

Pernyataannya menekankan urgensi untuk menghormati langkah-langkah pembangunan ekonomi yang berbeda. Mengingat, negara dengan ekonomi berkembang juga menolak melanjutkan komitmennya dalam kesepakatan Paris. "Tetapi pada akhirnya, itu (komunike akhir) masih 19 versus 1," ucap Bernes.

Presiden sayap kanan terpilih dari Brasil, Jair Bolsonaro, yang berkuasa per 1 Januari, disinyalir akan mengikuti kebijakan Trump dan menarik negaranya dari Perjanjian Paris.

Perbedaan suara di Buenos Aires, berlangsung sehari sebelum pembicaraan iklim PBB dimulai di Katowice, Polandia. COP24 berupaya menghembuskan kehidupan baru dalam perjanjian dengan negara-negara bersepakat menahan pemanasan global jauh di bawah 2 derajat celsius untuk di atas tingkat revolusi praindustri, serta berusaha mencapai 1,5 derajat celcius untuk batas bawah. (AFP/I-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya