Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SEJUMLAH pengunjuk rasa anti pemerintah Prancis di bawah kepemimpinan Emmanuel Macron, membakar puluhan mobil berikut bangunan pertokoan. Bentrokan yang terjadi di pusat kota Paris pada Sabtu (1/12) waktu setempat, mencuat di tengah gerakan ribuan orang bertajuk 'rompi kuning' yang memprotes kebijakan kenaikan pajak bahan bakar.
Petugas keamanan langsung meredakan kerusuhan dengan semburan gas air mata. Sebelumnya, para demostran melemparkan batu dan proyektil lainnya yang mengenai petugas keamanan, sebagai bentuk protes luas terhadap Presiden Perancis.
Asap tebal menyelimuti beberapa distrik perbelanjaan, ketika aksi kekerasan meluas dari Arc de Triomphe, yang menjadi pusat berkumpul sebelum berbaris menuju Champs-Elysees. Setelah pemeriksaan kartu identitas, sebagian pengunjuk rasa diperbolehkan masuk ke jalan.
Sedangkan yang lainnya mulai melawan barikade petugas kepolisian. Para pengunjuk rasa kemudian memicu aksi kejar-kejaran dengan pihak kepolisian, yang merusak sejumlah mobil dan jendela bangunan. Bahkan, beberapa pengunjuk rasa berhasil mencuri senapan serbu dari kendaraan polisi.
"Mereka yang bertanggung jawab atas kerusuhan ini, tidak menginginkan adanya perubahan atau perbaikan. Sebaliknya, mereka menginginkan kekacauan. Tidak ada alasan pembenaran atas penyerangan terhadap petugas berwenang, penjarahan pertokoan, hingga mengganggu masyarakat sekitar," ucap Macron di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Buenos Aires, Argentina.
Pihak berwenang menyatakan setidaknya 270 orang telah diamankan dari aksi kerusuhan massal tersebut. Korban luka-luka mencapai 110 orang, termasuk 17 petugas kepolisian dari total 5.000 personelyang dikerahkan untuk memobilisasi aksi protes. Adapun titik kebakaran yang berhasil dipadamkan mencapai 190 lokasi.
Kementerian Dalam Negeri Prancis mengungkapkan aksi protes yang sebelumnya datang dengan damai dihadiri sekitar 75 ribu demontrans, yang berasal dari seluruh penjuru negeri. Jumlah tersebut memang berkurang dari protes pertama pada 17 November, yang mampu menarik 282 ribu demonstran.
Gumpalan asap dan gas air mata merupakan bukti ekskalasi kekerasan di Paris, yang sempat menjadi kekhawatiran gerakan 'rompi kuning', jaket dengan visibilitas tinggi. Di sepanjang Avenue Foch, dekat Arc de Triomphe, rumah bagi kedutaan dan hunian mewah, para demonstran mengambil bangku untuk membentuk blokade. Satu orang memasang benderang tengkorak dan tulang layaknya identitas bajak laut.
Dalam sebuah wawancara dengan televisi lokal Prancis, Menteri Dalam Negeri Christophe Castaner mengaitkan kekerasan tersebut dengan agenda menabur konflik yang menargetkan kehancuran. Kendati demikian, dia memastikan situasi sudah terkendali.
"Kami adalah gerakan damai, tetapi kami tidak terogranisir. Memang itu sebuah kekacauan, karena kami tidak memiliki pemimpin. Selalu ada beberapa idiot yang datang untuk bertarung, namun mereka tidak mewakili suara kami," cetus Dan Lodi, pensiunan yang mengikuti gerakan protes di Champs-Elysees.
Gerakan 'rompi kuning' meluap di jejaring media sosial pada Oktober lalu. Sejak itu, protes terhadap pemerintahan Macron semakin meluas yang lebih luas. Dia dituduh gagal mengakui meningkatnya biaya hidup yang menyebabkan banyak masyarakat Prancis menderita.
Aksi protes pun menjangkit seluruh negeri yang merangkul banyak pensiunan, terutama di daerah perkotaan kecil dan perdesaan. Mereka memblokir jalan, menghadang akses masuk pintu tol, bahkan menutup kantor pajak. Sementara itu, Macron berupaya memadamkan amarah publik dengan menjanjikan tiga bulan pembicaran nasional yang bertujuan mengubah perekonomian Prancis lebih baik. (AFP/OL-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved